Renungan Harian, Jumat 1 Juli 2022 |

Suatu pagi, seorang wanita sedang menunggu di bandara.
Ia membeli buku dan sekantong kue lalu duduk.
Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya.

Dalam keasyikannya, ia melihat lelaki disebelahnya dengan berani mengambil satu atau dua dari kantong kue yang berada diantara mereka.
Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam.
Ia semakin kesal, sebab setiap ia mengambil satu kue, si lelaki itu juga mengambil satu.

Ketika hanya satu kue tersisa, dengan tersenyum lelaki itu mengambil kue terakhir dan membaginya menjadi dua.
Si lelaki menawarkan separuh miliknya sementara ia makan yang separuhnya lagi.
Si wanita itu pun merebut kue itu dan berguman dalam hatinya; “ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga tidak tahu berterima kasih.”

Belum pernah rasanya ia begitu kesal.
Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu masuk tanpa menoleh pada si “pencuri yang tak tahu terimakasih” itu.

Ia masuk ke dalam pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya.
Saat ia merogoh tasnya, ia menjadi sangat kaget. Di dalam tasnya, ada sekantong kue yang masih utuh.
Ternyata, kue tadi adalah milik lelaki itu. Terlambat untuk minta maaf, ia merasa menyesal dan malu. Sebab, sesungguhnya dialah si pencuri kue yang tak tahu terima kasih itu.

Sahabat terkasih, dalam hidup ini, kisah diatas merupakan gambaran nyata yang sering terjadi.
Banyak orang yang acapkali mudah berprasangka buruk dan menilai orang lain dengan kacamatanya sendiri (subjektif) padahal semua itu belum tentu benar.
Mereka sering beragapan bahwa orang lainlah yang selalu salah, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah yang selalu bikin masalah dan layak dihukum.
Padahal dirinya sendiri yang mencuri kue (bersalah) dan tidak tahu terimakasih.

Dimana hal yang serupa juga dialami oleh orang-orang Farisi seperti yang dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini (Matius 9: 9-13).
Mereka suka mengomentari, mencemooh, menghakimi orang lain sementara diri mereka sendiri belum tentu benar dan suci, yaitu seperti ada tertulis:

“Ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.

Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.
Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Semoga, semua ini dapat menginspirasi agar kita mau senantiasa berdoa supaya kita diberi hati seperti ‘hati Bapa’ yang penuh dengan belas kasihan dan mampu melihat bahwa setiap orang memiliki harapan untuk berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Sungguh, kita pun masih manusia biasa yang bisa saja melakukan kesalahan baik itu dengan sengaja maupun tidak.
Karenanya, mari selalu memeriksa ‘isi tas’ (intropeksi diri) kita terlebih dahulu, sebelum kita menilai orang lain.

Selamat merayakan Hari Jumat pertama… Jesus loves us always

frater Agustinus Hermawan, OP

pearlofthebrother

Matius 9:1-8 |

Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah la ke kota-Nya sendiri. Maka dibawalah kepadanya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya.

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah la kepada orang lumpuh, “Percayalah, anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “la menghujat Allah!” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kalian memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan, ‘Dosamu sudah diampuni’ atau mengatakan, ‘Bangunlah dan berjalanlah?’ Tetapi supaya kalian tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa, lalu berkatalah la kepada orang lumpuh, “Bangunlah, angkatlah dari tempat tidurmu, dan pulanglah ke rumahmu!”

Dan orang itu pun bangun, lalu pulang. Maka orang banyak yang melihat hal itu takut, lalu memuliakan Allah, karena la telah memberikan kuasa sedemikian kepada manusia.

Demikianlah sabda Tuhan

Renungan |

Tuhan Yesus yang penuh belas kasih sungguh nyata dan tanpa batas. Semua aspek Kehidupan manusia, dari kita lahir sampai akhir, dari sakit sampai sehat kembali.

Injil hari ini adalah contoh dari belas kasih Sang Juruselamat tentang penyakit tubuh dan penyakit jiwa. Dan, Kesembuhan jiwa adalah yang terpenting dan memerlukan usaha kita dan sesama yang membantu kita.

“‘Tuhan menciptakan kita tanpa kita: tetapi Dia tidak adapt menyelamatkan kita tanpa usaha kita’ (Santo Agustinus).

Orang lumpuh itu tidak mungkin bertemu dengan Tuhan Yesus jika tidak ada orang lain yang menggendongnya di atas tandu. Kita selalu membutuhkan orang lain untuk menyembuhkan dan membangkitkan kita. Selalu menyenangkan dapat mengandalkan orang-orang yang membawa kita lebih dekat kepada Yesus melalui teladan perbuatan baik mereka. Kekudusan pribadi membantu orang lain menjadi kudus.

Tuhan Yesus tahu orang sakit itu telah bertobat dari kesalahannya, Dia melihat imannya dan iman orang-orang yang membawanya, dan berkata: “Anakku, dosamu telah diampuni” (Mat 9:2).

mari kita ingat dan berdoa untuk orang yang membantu kita disembukan dan dibangkitkan Tuhan Yesus.

Renungan Harian, Selasa 28 Juni 2022 |

Pada jaman Yesus hidup di dunia ini, mitos tentang dewa-dewi yang menguasai alam semesta (seperti: dewa langit, bumi, angin, laut, dsb) masih berkembang luas di antara orang-orang Yahudi.
Sekalipun mereka tidak menyembah dewa-dewi, namun mereka masih terpengaruh oleh mitos-mitos tersebut.

Itulah mengapa di dalam bacaan Injil hari ini (Matius 8: 23-27), murid-murid Yesus merasa heran dan takjub karena Yesus dapat meredakan angin ribut dan membuat danau menjadi teduh, yaitu seperti dikatakan:
“Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia (Yesus) ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

Mereka berkata demikian, karena mereka beranggapan bahwa hanya dewa/ dewi saja yang dapat memerintah alam semesta, sebab belum pernah ada orang bahkan nabi sekalipun yang dapat melakukannya. Sehingga, hal ini telah menunjukkan kepada mereka, bahwa Yesus adalah Raja Semesta Alam.
Namun, sayangnya pada saat itu murid-murid-Nya belum sepenuhnya mengerti.

Kini, bagaimana dengan kita; “apa dampak dari mujizat Yesus yang terjadi 2000 tahun yang silam ini terhadap perkembangan iman kita?”

Penginjil Matius menceritakan bahwa:
“Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.
Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.”
Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”
Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.”

Dalam hidup, banyak orang yang memisahkan antara urusan duniawi (ilmu pengetahuan, pekerjaan, karier dan keuangan) dengan urusan keagamaan.
Mereka beranggapan bahwa berbicara tentang Tuhan dan iman hanyalah cukup di dalam Gereja saja. Diluar itu, banyak orang yang mendewa²kan harta dan jabatan, sehingga tidak lagi membutuhkan campur tangan Tuhan.

Namun pada kenyataannya, ‘setinggi tingginya tupai melompat akhirnya jatuh juga’.
Sehebat apapun seseorang pasti pernah mengalami kegagalan dan dapat melakukan kesalahan.
Tak jarang, ketika harta dan jabatan mereka lenyap, akhirnya banyak diantara mereka yang menjadi frustasi dan stress.

Akan tetapi, syukur pada Allah, sebab sekalipun manusia sering melupakan Tuhan dan membiarkan-Nya ‘tertidur’, Ia pasti akan segera menolong setiap kita yang berseru dan datang memohon pertolongan dari pada-Nya.

Semoga, semua ini dapat menginspirasi agar kita mau terus menumbuhkan iman kita dan membiarkan Yesus meraja di dalam segala aspek kehidupan kita, baik di dalam pekerjaan, usaha, study dan kehidupan kita sehari-hari.
Teruslah berkomunikasi dengan-Nya di dalam doa dimanapun kita berada, supaya Ia tidak akan tertidur dan membiarkan kita berjuang sendirian.
Sungguh, badai dan gelombang kehidupan dapat sewaktu-waktu menerpa, tetapi bila ada Yesus yang terjaga di dalam hati kita, kita pasti akan dibuat-Nya heran, karena tiada perkara yang mustahil bagi-Nya.

Have a great day & God bless

frater Agustinus Hermawan, OP

Seorang janda, penduduk Roma dari keluarga Buvallsco, bernama Lady Tuta dari Pensilio, sangat menghormati Bapa Dominikus. Dia hanya memiliki seorang anak, dan anak itu sakit sekali. Suatu hari ketika Beato Dominikus berkotbah di kotanya di dalam Gereja St. Markus, wanita ini, memiliki keinginan kuat untuk mendengar Sabda Allah darinya, meninggalkan anaknya yang sakit di rumah dan pergi ke gereja dimana Bapa Dominokus sedang mewartakan Sabda Allah.
Setelah selesai, ia pulang ke rumah dan menemukan anaknya sudah meninggal. Meskipun dipenuhi duka, ia berhasil menyembunyikan dukanya dalam keheningan dan mempercayai kuasa Tuhan dan perantaraan doa Bapa Dominikus. Ia memanggil pelayan-pelayannya dan membawa anaknya yang sudah meninggal, melakukan perjalanan ke gereja San Sisto, dimana Bapa Dominikus sedang tinggal bersama saudaranya.
Ketika ia masuk, Ia menemukan Bapa Dominikus berdiri disamping pintu aula seakan-akan sedang menunggu seseorang. Melihatnya, ia meletakkan anaknya dikakinya dan berlutut di hadapannya, sambal memohon kepadanya dengan tangisan untuk memulihkan anaknya. Bapa Dominikus, tergerak karena dukanya begitu dalam, mundur sedikit dan berdoa sejenak. Kemudian ia berdiri dan mendekati anaknya, membuat Tanda Salib diatasnya. Kemudian ia mengangkat tangannya, Ia memberdirikan anak itu dalam kondisi hidup dan sehat dan memberikannya kepada ibunya dan memintanya untuk tidak memberitahukan kepada siapapun.
Tetapi wanita itu dengan senang sekali memberitakan apa yang terjadi padanya dan kepada anaknya supaya cerita ini sampai Bapa Suci, yang ingin menyatakan mujizat ini kepada semua orang di khotbah umum. Tetapi Bapa Dominikus yang begitu mencintai dan ingin menjaga kerendahan hatinya, menyangkal dan menyatakan jika ia melakukannya, ia akan pergi dari situ dan pergi ke seberang lautan. Takut akan hal ini, Bapa Suci berjanji untuk merahasiakannya.
Tuhan berkata dalam Injil-Nya bahwa siapapun yang merendahkan dirinya akan ditinggikan dan yang biasa meninggikan hamba-hamba-Nya melawan niat dan rencana mereka, sehingga bangkit devosi umat untuk menghormati Bapa Dominikus hingga mereka mengikutinya kemanapun ia pergi seakan-akan ia seorang malaikat dan menggangap mereka terberkati apabila mereka bisa menyentuhnya atau mendapatkan bagian dari pakaiannya sebagai relikui. Inilah kenapa mereka memotong dari kerudung dan jubahnya sehingga panjangnya tidak mencapai lututnya.

Ketika saudara-saudaranya melarang ini, kepala biara yang terberkati, bersimpati dengan devosi mereka mengatakan “Biarkanlah mereka melakukan itu untuk memuaskan devosi mereka.” Mereka yang menyaksikan mukjizat hebat ini adalah Saudara Tancred, Saudara Otto, Saudara Henry, Saudara Gregory, Saudara Albert dan banyak orang lain yang kemudian memberikan keterangan kepada Sr. Cecilia, yang ketika saat itu tinggal di pertapaan St. Mary di Tempulo dengan beberapa suster lainnya.

Sumber: http://www.domcentral.org/trad/domdocs/0006.htm

Di meja makan banyak peristiwa terjadi, baik itu kesedihan, peristiwa gembira, dan hal-hal lainnya. Sehari sebelum Pesta Santo Dominikus, tepatnya pada tanggal 7 Agustus 2021, Dominikan Indonesia mengadakan pertemuan yang menghadirkan seluruh anggota komunitas. Pertemuan ini diikuti baik imam, suster religiusnya, suster kontemplatif, kaum awam, orang muda Dominikan, semuanya berbaur dalam satu meja yang sama melalui Zoom.

Romo Edmund C. Nantes, OP saat awal pertemuan menjelaskan tentang sejarah Dies Natalis Santo Dominikus dan makna berada di “Satu Meja Bersama Santo Dominikus” yang menjadi tema perayaan 800 tahun dies natalis Ordo Pewarta. Diceritakannya, banyak hal terjadi di meja perjamuan, “Dari situ Saya memutuskan untuk menjadi seorang imam. Meja kita sekarang ini menjadi sangat panjang, bahkan bisa melalui Zoom (online).”

Dominikus selalu membawa harapan kepada orang lain, bahkan di saat menjelang ajalnya sekalipun ia masih memberikan harapan kepada saudara-saudaranya, “Kalau saya berguna saat bersama kalian, maka saya akan lebih berguna saat saya berada di surga.”

“Saat kita sedih dan sulit, Tuhan ada di dekat kita karena kita adalah anak-anak-Nya. Mari kita hadir di meja bersama St. Dominikus dan para orang kudus di surga dan bersama keluarga Dominikan yang masih berjuang di dunia ini.” Ungkap Romo Nantes.

Purwanto, orang tua dari Frater Widi mengaku sangat bersyukur dan bangga anaknya bisa masuk sebagai Dominikan. Ia yakin ini adalah karya Roh Kudus dalam membimbing Widi dari seminari menengah. Ia juga menceritakan bahwa pada awalnya ia beserta istri tidak mengetahui apa itu Dominikan.

“Awal mula ada kunjungan dari Pak Theo (Dominikan Awam) dan teman-teman ke susteran, kami diundang kesana. Beliau mengatakan akan mengadakan retret nasional ke Muntilen. Saat itu kami sama sekali tidak mengetahui apa itu Dominikan, tapi karna saya menyadari anak saya masuk Dominikan, kami nekat datang ke retret nasional kemudian diterima disana oleh Pak Theo dan Pak Adi, kami mengikuti semua kegiatan disana dan kami merasa tertarik untuk masuk ke Dominikan.”

Sementara, Ratna orang tua dari Frater Elson juga berbagi kisah saat pertama kali putranya memutuskan untuk bergabung bersama Dominikan. Ratna merasa takut saat pertama kali mendengar anaknya akan pergi jauh, “Kalau seminari tengah kan saya masih bisa telpon, masih bisa datang saat Elson ulang tahun. Nah kalau ke Filipina mah gak bisa. Ada rasa kaget dan sedih ditinggalin.

Ratna menambahkan, salah satu hal yang sangat berkesan baginya adalah saat sharing dari Pak Sanjaya yang mengatakan bahwa panggilan sebagai imam merupakan rahmat ilahi, “Itu adalah suatu kebahagiaan yang gak semua orang tua bisa dapat. Anak yang lain bisa jadi dokter bisa jadi insinyur dan sarjana macam-macam, tapi untuk menjadi pastor itu adalah rahmat panggilan, rahmat Ilahi,” katanya.

Melihat anaknya dipenuhi kegembiraan, orang tua Frater Elson memutuskan untuk bergabung bersama Dominikan Awam. Mereka ingin merasakan kebahagiaan yang anaknya rasakan.

Cerita menarik lainnya datang dari Halim, orang tua Frater Diego. Halim mengisahkan, anaknya memiliki niat masuk seminari sudah sejak SMP, “Saat lulus S1 dia sering ikut retret ini retret itu dari berbagai macam ordo, sampai akhirnya ia pulang dan ngomong sama saya dia mau masuk seminari mau jadi pastor, ya saya si nggak bisa ngomong apa-apa, itu hak dia untuk memilih jalan hidup selanjutnya.”

Romo Andre dalam khotbahnya mengatakan di meja bersama Dominikus berarti saling berbagi, saling menguatkan dan saling meneguhkan. Master Jendral Ordo Pewarta Father Gerard Timoner juga menegaskan di meja makan Santo Dominikus tidak sendirian, tetapi Santo Dominikus bersama komunitas dan saudara-saudaranya dalam satu meja. Gambar itu terinspirasi dari meja Mascarella, ada gambar Santo Dominikus dilukis setelah beberapa tahun ia diproses menjadi orang kudus, relik yang luar biasa.

Penjubahan menandakan peralihan jenjang seorang lelaki awam menjadi seorang religius. Sembilan saudara ordo Pewarta pada hari Jumat, 11 Juni 2021 di Sekolah Tinggi Teologi Pastor Bonus menyerahkan pakaian duniawi mereka untuk menerima dan mengenakan Jubah Dominikan sebagai simbol penerimaan Kristus, model hidup setiap religius.

Penjubahan yang diawali dengan perayaan ekaristi itu dipimpin oleh RP. Johanes Robini Marianto OP, dengan konselebrannya Pastor Mingdry Hanafi Tjipto OP, Pastor Andreas Kurniawan OP, Pastor Edmund C. Nantes OP, dan RD. Robert Ambrosius Dhai Mosa.

Dalam homilinya, Romo Robini mengucapkan terima kasih kepada Prior Provincial Fr. Filemon I. dela Cruz Jr., OP yang mendelegasikan penjubahan ini kepadanya.

“Romo Nantes ini mantan Provinsial yang jauh lebih pantas daripada saya. Saya didelegasikan karna saya superior, bukan karna saya lebih dari saudara-saudara lainnya.”

Dia mengatakan, Ordo dominikan dikenal karna intelektualnya dan ia menanyakan mengapa novisiat minta kerahiman, bukan otak yang cemerlang. “Setelah 21 tahun saya masuk dalam hidup dominikan, saya mengerti sekarang dan ini diperkuat dengan perayaan hari ini yang bertepatan dengan hari raya Hati Kudus Tuhan Kita Yesus Kristus. Inti dari pewartaan kita, seberapa dalam kasih Allah kepada manusia.”

Romo Robini mengatakan kepada sembilan Novis Ordo Pewarta, “Kamu tidak seragam, kamu berbeda satu sama lain, dan hari ini kamu mulai mencoba menjadi saudara satu sama lain sampai mati, dan kamu akan tau sama tau orang ini modelnya seperti apa, kamu modelnya seperti apa. Kamu akan menemukan kalian semua tidak ada yg sempurna. Dan yang paling menyakitkan langsung atau tidak langsung saling menyakiti, itu kenyataan yang paling menyedihkan.” Imbuhnya.

Lanjutnya, masuk novisiat dengan harapan bisa menjadi suci, bisa bersama dengan teman yang suci, tapi yang terjadi ternyata malah sebaliknya, bisa saling menyakiti, saling melukai dan hidup bersama-sama itu tidak gampang, sulit jika tidak saling memberi kerahiman.

“Pengalaman saya mengembangkan saya, saya di dorong untuk mengembangkan talenta saya. Ketika hari ini saya melihat kamu lebih banyak dari orang Philippine, saya percaya kamu generasi kedepan bisa lebih hebat dari saya, bisa menjadi apa yang tidak mungkin di zaman saya. Belajar yang baik, jangan tidur. Kamu bisa lihat bagaimana Romo Nantes, Romo Ming, Romo Andre menyiapkan semuanya untuk penjubahan kamu, bagaimana komunitas ini bekerjasama dalam segala kesibukan tugas yang ada untuk membuat semua ini terjadi. Menurut saya semua ini luar biasa.” Katanya.

Romo Robini juga menyampaikan harapan dari dirinya dan saudara seordonya saat awal para Novis memasuki kehidupan religius, Novis bisa merenungi semua bacaan dengan seksama: ”Kami berdoa supaya kamu dengan semua orang kudus dapat memahami betapa lebar dan panjangnya, betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus, juga supaya kamu dapat mengenal kasih Kristus itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku dan kami berdoa supaya kamu dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah. Saya harap pesta hari ini menjadi permulaan yang menjadi titik tolak permenungan sampai akhir. Kami berempat kalau tanpa kasih tidak akan bertahan di depan kalian. Dari Provincial mengucapkan Terima kasih kepada mgr. Agustinus Agus sudah hadir, atas Keuskupan, Novisiat dapat diadakan di tempat ini.” Terangnya.

Jubah Dominikan terdiri dari:
Jubah Putih yang menjadi simbol penyerahan diri dalam baptisan, yang kemudian dikukuhkan oleh jawaban kandidat untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya sebagai seorang Dominikan.
Sabuk yang menyimbolkan keinginan seorang Dominikan untuk menundukan hasrat dan hal-hal duniawi yang ada demi tujuan surgawi.
Setiap pewarta membawa Rosario. Melalui tradisinya, Gereja sudah menyerahkan dan mempercayakan devosi Rosario kepada putra dan putri Santo Dominikus untuk mewartakan devosi ini kepada Dunia.
Skapulir yang panjang dan lebar yang dipadukan dengan jubah putih sebagai tanda kasih dan perlindungan Perawan Maria yang tersuci.


Santo Dominikus mendirikan perkumpulan para pria-pria yang hidup untuk melayani Gereja sebagai pewarta dan guru di dalam tugas seorang Uskup. Hal ini disimbolkan dengan Kapus Putih yang dikenakan di bahu. Tudung yang meliputi kepala mereka menggambarkan kontemplasi, sumber dari hidup doa dan hidup studi.
Pada Hari Raya, Mantel Hitam dikenakan menyelubungi semua. Mantel Hitam menjadi simbol akan kematian terhadap dosa dan pertobatan Jubah Putih dan Mantel Hitam meliputi keseluruhan jubah seorang Saudara Pewarta.

Dalam pesan dan kesannya, Frater Hengky Padaunan yang merupakan perwakilan dari Novis yang telah menerima penjubahan mengatakan, momen kesedihan dimana mereka harus berpisah bersama dunia luar terutama bersama keluarga, dan boleh jadi dianggap aneh oleh dunia karena setelah pesta perayaan penjubahan, mereka akan segera meninggalkan gaya hidup yang lama. “Selama ini mungkin kami sering boros, menghabiskan waktu bersama internet, games, jalan-jalan, menonton bioskop, dan segala sesuatu yang bersifat menghibur diri. Ini adalah barang-barang duniawi kami yang telah kami kumpulkan, didalamnya adalah barang-barang yang berharga, ATM kami, uang kami, jadi saat ini kami tidak memiliki uang sepeserpun. Melalui tahap ini kami diajak untuk bermenung, jauh dari keramaian dunia yang tentu ini adalah tantangan bagi kami. Dalam hal ini kami dibentuk untuk menjadi dewasa, dewasa secara kepribadian, dewasa dalam iman secara katolik dan dewasa dalam panggilan yang telah kami pilih.” Imbuh Frater.

Dirinya juga mohon doa dan dukungan dari seluruh umat yang menyaksikan, baik secara langsung maupun melalui streaming, “Bagi orang tua kami, mohon bersabar setahun. Kami berharap bahwa kami tidak dicoret dari Kartu Keluarga, walaupun kami telah menyerahkan diri kepada Ordo, namun hubungan kami dengan keluarga harus tetap terjalin karena sumber motivasi kami juga berasal dari keluarga.” Kata Frater Hengky.

Di akhir kalimatnya, ia mewakili saudara-saudaranya, mengucapkan terima kasih untuk semua bantuan dan dukungan yang telah diberikan.

Sementara itu, Frater Yohanes Kasra yang menjadi perwakilan dari komunitas Seminari Tinggi Antonio Ventimiglia mengucapkan selamat kepada kesembilan saudara Ordo Pewarta karena sudah melangkah jauh, “Pesan kami jangan berhenti berjuang, perjalanan masih jauh, karena kita masih tahap dipanggil, belum sampai tahap dipilih seperti para Romo yang telah sampai pada tahap ditahbiskan menjadi Imam.” Imbuhnya.

Dalam sambutannya, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus mendoakan Ordo Dominikan Philippine khususnya Dominikan di Indonesia agar mampu mengembangkan gereja di Indonesia dan khususnya gereja di KAP dan Kalimantan Barat.

“Banyak kekurangan tidak perlu khawatir. Tuhan minta kita belajar, belajar untuk setia kepada janji kita. Jatuh, coba lagi.”

“Santo Dominikus senang pengikutnya ada dalam mantel Bunda Maria. Semua orang yang rajin berdoa bersama Bunda Maria dalam Rosario, ada dalam mantel Bunda Maria,” kata Moderator Persaudaraan Dominikan Awam (PDA) Pastor Andreas Kurniawan OP kepada 26 anggota Dominikan Awam yang mengucapkan kaul pertamanya sebagai Ordo Pewarta dalam Misa di Gereja Santo Agustinus, Senakin, Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalbar, 24 April.

Misa dan Pengucapan Janji Saudara Saudari Awam Ordo Pewarta Regio Pontianak itu juga dihadiri Presiden Dominikan Awam Chapter Pontianak Fransiskus Edy OP, Suster Benedita OP, Suster Lusminda OP dan Suster Ivon OP serta keluarga para Dominikan Awam, dan anggota koor dari OMK Kayu Tanam.

Gambar-gambar orang kudus yang berada dalam bukaan mantel Bunda Maria nampak dalam buku yang dibagikan kepada Dominikan Awam yang mengucapkan kaul pertama itu. Buku-buku itu, minta Pastor Andrei, jangan hanya disimpan, namun juga dibaca, karena “dalam buku itu terdapat kisah dan pengalaman hidup orang kudus yang bisa menjadi teladan.”

Di tahap awal pembekalan sebagai Dominikan Awam, peserta juga menerima Rosario “agar Dominikan Awam rajin doa Rosario dan rajin berdoa kepada Bunda Maria. Dengan Rosario kita bisa dekat dengan Bunda Maria dan dengan Puteranya.” Maria menginginkan umat Kristiani untuk mendoakan orang-orang yang telah dipanggil Tuhan, kata Pastor Andrei.

Yang juga dibagikan dalam Misa itu adalah skapulir yang “menjadi simbol bahwa para Dominikan tidak sendirian dan selalu dalam perlindungan,” jelas imam itu seraya menegaskan bahwa yang paling penting adalah janji, kaul yang pertama.

“Banyak kekurangan tidak perlu khawatir. Tuhan minta kita belajar, belajar untuk setia kepada janji kita. Jatuh, coba lagi,” kata Pastor Andrei yang menegaskan bahwa sesuai buku pegangan, anggota Dominikan Awam harus berdoa Rosario setiap hari, selain melakukan doa pagi, doa sore, doa malam. “Ibadah juga harus kita lakukan, dan sesering mungkin ikut perayaan Ekaristi.”

Santo Dominikus, tegas Pastor Andrei, ingin agar kita selamat, dan ketika meninggal, awam, suster dan pastor tidak ada bedanya, semua dipakaikan pakaian kedominikanan.”

Suatu ketika hiduplah seorang saudagar yang kaya raya. Dia mempunyai seorang hamba yang setia namun sangat lugu.
Suatu kali sang saudagar menyuruh hambanya itu pergi ke sebuah perkampungan miskin untuk menagih hutang.

Maka pergilah ia ke perkampungan yang dimaksud. Ia mengumpulkan receh demi receh dari para penduduk desa yang membayar hutang.
Para penduduk itu memang sangat miskin, apalagi saat itu tengah terjadi kemarau panjang.

Akhirnya hamba itu berhasil menyelesaikan tugasnya. Dalam perjalanan pulang, ia pun teringat dengan pesan tuannya; “Belikan sesuatu yang belum aku miliki.”

“Tuanku sangat kaya, apa lagi yang belum dia punyai ya?” gumannya dalam hati.

Setelah berpikir agak lama, hamba yang lugu itu pun menemukan jawabannya.
Dia kembali ke perkampungan miskin tadi. Lalu dia mengembalikan lagi uang yang sudah dikumpulkannya tadi kepada para penduduk.
“Tuanku memberikan uang ini kepada kalian,” katanya.

Para penduduk desa itu pun sangat gembira.

Tetapi, ketika si hamba itu pulang, bukan pujian melainkan omelan dari tuannya yang ia terima.

Waktu pun berlalu. Tiba tiba terjadilah bencana banjir dan tanah longsor yang menghabiskan semua harta benda sang saudagar.
Saudagar itu pun jatuh miskin. Kini hanya hambanya yang lugu setia menemaninya.
Ketika mereka sampai di sebuah desa, entah mengapa para penduduknya menyambut mereka dengan riang dan hangat. Mereka menyediakan tumpangan dan makanan bagi sang saudagar dan hambanya.

“Mengapa mereka begitu baik hati menolong kita?” tanya sang saudagar kepada hambanya.

“Ingatkah tuan dulu pernah menyuruh hamba menagih hutang kepada para penduduk miskin di desa ini? Lalu, tuan berpesan agar uang yang terkumpul boleh saya belikan sesuatu yang belum tuan punyai.
Saat itu saya berpikir, tuan sudah memiliki segala sesuatu. Satu-satunya hal yang belum tuanku punyai adalah kabaikan di hati mereka. Maka saya membagikan uang itu kepada mereka atas nama tuan. Sekarang tuan menuai kebaikan dari mereka.”

Sahabat terkasih, cerita diatas ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa harta duniawi dapat sewaktu-waktu lenyap, namun kebaikan yang kita taburkan dapat selamanya tinggal di hati sesama. Ada kalanya, hal-hal yang kita anggap tidak penting justru itulah yang akan menjadi penolong disaat kita jatuh.
Karenanya, jangan pernah melupakan sesama, kebaikan sekecil apapun yang kita tabur, suatu saat kita pasti akan menuai hasilnya.

Kiranya pesan yang serupa juga dapat kita petik dari bacaan Injil hari ini (Matius 6: 19-23). Pada kala itu, Tuhan Yesus bersabda:
“Janganlah kalian mengumpulkan harta di bumi. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga. Karena dimana hartamu berada, disitu juga hatimu berada.”

Kini, jika boleh kita sejenak renungkan; “apakah harta yang aku miliki telah memberikan segala sesuatu yang aku ingini?” atau “adakah sesuatu yang belum aku miliki?”

Semoga semua ini dapat menginspirasi kita semua agar kita mau berlomba-lomba mengumpulkan ‘harta’ yang dapat memberikan segala yang kita ingini baik di bumi maupun di Surga.
Harta duniawi memang penting, akan tetapi jangan sampai kita jadikan sebagai sesuatu kita sayangi melebihi hidup kita dan sesama.
Hanya cinta kasih dan kebaikan hati yang akan menjadi harta yang tidak akan pernah habis dan hilang, karena semuanya terhitung dan tersimpan dengan baik di dalam Surga.

Jesus loves us always 🙏🏻😇

frater Agustinus Hermawan, OP

#pearlofthebrother

Follow us: