Kongregasi Suster-suster Santo Dominikus di Indonesia berasal dari Kongregasi Suster-suster Santo Dominikus dari Keluarga Kudus: Yesus, Maria, dan Yosef di Neerbosch, Nederland, yang didirikan pada tahun 1848 oleh Pater Dominikus Daniel Josephus van Zeeland, OP

Kongregasi Suster OP yang merupakan Kongregasi tingkat Keuskupan dengan kaul-kaul sederhana  merupakan bagian dari Familia Dominicana.

Pada tahun 1931 Kongregasi Suster-suster OP mulai berkarya di Indonesia dan membuka misinya di Indonesia. Sejak saat itu Pemimpin di Indonesia disebut sebagai Pemimpin Misi. Misi di Indonesia berkembang yang sebagian besar anggotanya  adalah orang-orang Indonesia. Pada Kapitel tahun 1982, Misi di Indonesia diberi wewenang dalam mempersiapkan kemandirian atau otonomi. Pada tanggal 12 Desember 1987, Misi di Indonesia diberi otonomi dan menjadi Kongregasi mandiri.

Sejarah secara singkat:

Sr. Willibrorda dengan Misionaris Pertama
(dari Kiri ke Kanan: Sr. Willibrorda
Willard, Sr. Hildegardis Dukker,
Sr. Angelina ‘t Hoen dan Sr. Clara
Mentink) Sebelum keberangkatan mereka ke
Hindia Belanda

17 September 1931: Para Suster Dominikan Belanda berangkat ke Indonesia untuk membuka misi pertamanya untuk menanggapi panggil Mgr. BJJ Visser, MSC. Yang  diutus Sr. Angelina’t Hoen (Sr. Angelina) OP, Sr. Hildegardis Dukker, OP dan Sr. Clara Mentink, OP

8 Oktober 1931: Para Suster Dominikan tiba di Pelabuhan Batavia, Indonesia

15 Oktober 1931: Tiba di Cilacap. Misi pertama dimulai dari sini. Dengan mendirikan  Hollands Chinese School (HCS), sekolah untuk anak-anak keturunan Tionghoa sekolah dasar untuk anak Jawa dan Manado. Para Suster membuka  panti asuhan dengan nama Pondok Theresia “Huiz Theresia” untuk menampung anak-anak yatim piatu dan asrama untuk menampung untuk menampung anak-anak dari luar kota.

Gedung sekolah & Asrama di Cilacap

 

25 November 1931: mengutus Sr. Virgini Schilderman, OP, Sr. Alphonsa Hoogenbosch, OP dan Sr. Hubertine Simonse, OP ke Indonesia.

 

24 Desember 1931: Misi kedua akan dimulai kembali dengan setibanya Sr. Virgini Schilderman, OP, Sr. Alphonsa Hoogenbosch, OP dan Sr. Hubertine Simonse, OP di  Cilacap, Indonesia.

 

Juni 1933: 4 Suster Dominikan Belanda diutus lagi ke Indonesia, yaitu  Sr. Godeliva de Maat, Sr. Ludovica Koster, Sr. Engelina Hendriksen, dan Sr. Aimona Wiezel.

Rumah Biara Pertama di Cilacap

18 Agustus 1933: Sr. Seraphica Schunselaar tiba di Indonesia. Menambah tenaga dalam misi keempat.

16 Juli 1934: Empat suster dominikan datang lagi ke tanah misi, yaitu Sr. Imelda Melani, Sr. Christina Ypma, Sr. Philomena Baas dan Sr. Beata Oosterwijk di Cimahi. Ini sebagai misi yang ke-5.

22 Juli 1934: Mendirikan Biara kedua di Cimahi dengan nama Biara Santa Maria.

Pemberkatan sekolah di Cimahi

 

Tahun 1935: Suster dominikan menerima para aspiran suster dominikan. Salah satunya dalah Casiana Sari dengan nama biaranya Sr. Bernadette sebagai suster pribumi pertama.  Ada pun beberapa nama-nama Suster yang masuk sebelum perang Dunia II: Sr. Bernadette Sari, Sr. Theresia Redjeb, Sr. Ignatia Sini, Sr. Rosa van Deursen, Sr. Albertha, Sr. Dominika Soeminah, Sr. Marie Yoseph Brilleman, Sr. Jacoba Soemilah, dan Sr. Bertranda Wolters.

Februari 1936: Konggresi  mengutus Sr. Thomasine Speller, Sr. Callista Gertzen, Sr. Josina Leuverink ke Cimahi, Indonesia.

Tahun 1939: Sebagai misi ke-7 sekaligus sebagai utusan terakhir. Mengutus Sr. Gaudentia Koster, dan Sr. Josephine Hendriks dengan mendirikan sekolah Kepandaian Putri Lengkap (SKP).

Murid-murid senam bersama

 

Maret 1939: Sr. Bertandra van der Avoort mengganti pemimpin kongregasi yang tidak mampu mengadakan perjalanan jauh Sr. Willibrorda untuk memakili  dalam kunjungan pertama  ketanah Misi Indonesia bersama Sr. Hubertine van der Berg.

6 Februari 1942: Sebagian suster dan para anak dari Pondok Theresia mengungsi dari Cilacap ke Karanganyar karena terjadi peperangan dampak dari perang dunia II yang sudah dimulai.

Para Suster, Novis dan Postulan di depan
Biara Santa Maria Cimahi

 

1 Maret 1942: Tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa.  Selang beberapa hari kota Cilacap pun dijatuhi bom-bom. Para korban yang terluka bom dibawa ke sekolah suster yang telah diubah menjadi rumah sakit darurat.

23 Juli 1943: Terjadi perpisahan antara Suster Belanda dengan suster pribumi. Para Suster Belanda dibawa ke tempat pengasingan di Muntilan dan suster-suster pribumi tinggal di Karanganyar.

24 Nopember 1943: Para Suster yang di Muntilan dipindahkan ke Mendut, ke biara Suster-suster Fransiskanes.

19 Maret 1944: Para Suster dikembalikan Ke Muntilan dari Mendut. Tempat pengasingan ini mereka disatukan bersama Para religius (Romo).  Meski sebenarnya dilarang tapi Para Suster memberikan pengajaran agama, banyak orang yang telah lama meninggalkan agamanya bertobat. Para religius dipisahkan dengan kaum awam.

24 Agustus 1945:  Adalah kabar gembira karena perang sudah berakhir. Dampak dari pengeboman Kota Hiroshima. Indonesia pun sudah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

8 Maret 1946: Para Suster Belanda secara berkelompok kembali ke Belanda lantaran keadaan di tanah Misi (Cimahi) belum sepenuhnya pulih.

4 November 1947: Beberapa yang Suster Belanda yang kembali ke Belanda, datang kembali ke tanah Misi.  Pada tahun 1947 Cimahi dijadikan Biara Induk (Biara Santa Maria).

Tahun 1950: Para Suster berangkat ke Cirebon untuk membuka misi di sana. Setelah mereka menerima kesepakatan bahwa tempat yang akan ditempati itu sudah kosong. Suster yang ke sana adalah Sr. Angelina, Sr. Hubertine, Sr. Rosa, Sr. Bernadette, Sr. Fransisca, Sr. Ludovica, dan Sr. Marie Yoseph. Akan tetapi ketika tiba di Cirebon mereka belum bisa menepati tempat yang sudah dijanjikan.

Tahun 1951: Para Suster menerima misi di Purwokerto untuk melanjutkan karya-karya yang sudah ditinggal Suster Ursuline setelah perang Dunia II.  Pada tahun yang sama untuk mendukung misi di Jawa dikirim 2 Suster dari Belanda; yaitu Sr. Edmunda Van der lee dan Sr. Jacoba van der Ploeg. Misi tersebut adalah misi ke-8 para suster Dominikan.

Para Suster Komunitas Purwokerto

17 Desember 1951: Perutusan tetap berlanjut, kali ini yang diutus adalah Sr. Ludovica Koster, Sr.Philomena Baas, dan Sr. Josephine Henricks yang kemudian disusul oleh Sr. Alphonsa Hoogenbosch, Sr. Theresia Redjeb, Sr. Bernadette Sari, Sr. Josina Leuverink, dan Sr. Virgini Schilderman untuk memulai misi ke-9 di Purwokerto.

Tahun 1955: Tempat yang dijanjikan pun akhirnya bisa mereka ditempati. Selama 5 tahun mereka menantikan tempat itu, mereka melakukan kegiatan sesuai keahlian mereka, yaitu mengajar TK, SD, dan SMP.

Tahun 1962: Membuka misi di Rawaseneng dengan mengirim Sr. Beata dan Sr. Bernadette.

Tahun 1968: Membuka novisiat di Yogyakarta, dimana sebelumnya di Cimahi.

Tahun 1970: Misi membangun biara di Maguwoharjo.

Tahun 1972: Membuka misi baru dengan menerima tawaran dari Ordo Saudara Dina (OFM) untuk mengelola panti asuhan Pondok Si Boncel.

Tahun 1976: Melaksanakan Kapitel Pemilihan Pemimpin Misi yang baru.

Tahun 1981: Membuka biara baru di Wonosari.

Tahun 1982: Membuka biara baru di Jalan Pejaten Raya, Jakarta.

Sumber: (website susterdominikan.org.)

style=align:center

 

 

 

Download
Aplikasi Play Store
Doa Ofisi (Brevir)

 

Dominikan.Id © 2018