BEATA JUANA DE AZA

[text_divider type=”double”]

BEATA JUANA DE AZA
(Abad ke-12)

[/text_divider]

[column width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

• Nama lain: Jane d’Aza, Giovanna d’Aza, Joan dari Aza
• Simbol/atribut: seorang ibu bersama anak laki-laki dengan
anjing menggigit obor; seorang ibu diapit dua biarawan
Dominikan (St. Dominikus dan Beato Manes); seorang ibu
yang memimpikan anjing menggigit obor
• Pesta: 2 Agustus

[/column]

[column width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

Di balik seorang pria yang hebat, ada wanita yang hebat. Barangkali ungkapan itulah yang dengan tepat menggambarkan Beata Juana, ibunda dari St. Dominikus de Guzman pendiri Ordo Pewarta. Wanita ini dikaruniai paras menawan dan akal yang terdidik, ditambah pula dengan kesalehan yang kokoh dan semangat untuk melakukan karya amal kasih.

Catatan sejarah tentang Juana amat sedikit. Kita tidak mengetahui persisnya kapan ia lahir, kapan ia meninggal, dan detil kehidupan sehari-harinya. Akan tetapi, dari sedikit kisah tentang dirinya yang diketahui dan dari pribadi St. Dominikus sendiri, kita mengenal Beata Juana sebagai wanita yang murah hati, bijaksana, periang, dan selalu percaya kepada kebaikan Allah.

Juana lahir di Aza (Haza) pada antara tahun 1135 hingga 1140. Ayahnya adalah Garzia Garces, kepala rumah tangga, pengasuh, sekaligus guru privat untuk Raja Alfonso IX. Sedangkan ibunya adalah Sancha Bermudez de Trastamara. Keluarga Juana merupakan keluarga bangsawan yang terhormat yang masih berhubungan darah dengan keluarga Kerajaan Castile, Spanyol.

Saat ia berusia sekitar 20 tahun, Juana menikah dengan Felix Ruiz de Guzman, yang lebih dikenal dengan Felix de Guzman, seorang ksatria dan kepala atas kota kecil Caleruega. Di sana mereka tinggal dan memiliki tiga anak laki-laki, yaitu Antonio, Manes atau Mannes, dan Dominikus. Yang tertua, Antonio, menjadi imam Kanon Santo Yakobus yang membaktikan diri untuk melayani para peziarah dan orang sakit yang berkunjung ke makam Santo Dominikus de Silos, seorang Rahib Benediktin. Putra kedua, yaitu Manes, juga menjadi imam. Di kemudian hari ia mengikuti St. Dominikus sebagai salah seorang Dominikan yang pertama, dan turut dibeatifikasi.

Dengan kedua putranya dibaktikan untuk melayani Allah, keluarga Guzman tidak memiliki pewaris. Maka Juana pun pergi ke makam Santo Dominikus de Silos dan berdoa novena memohon keturunan lagi. Pada hari ketujuh novena, sang santo menampakkan diri kepada Juana dan mengatakan bahwa doanya telah didengar, Juana akan mengandung dan melahirkan seorang putra yang kelak
disebut sebagai Cahaya Gereja dan ditakuti oleh kaum sesat. Sebagai ucapan syukur, Juana berjanji bahwa anaknya akan dinamakan sesuai nama santo tersebut. Rupanya Sang Rahib Benediktin tidak hanya melindungi kelahiran Kanak-kanak Dominikus, ia juga membiarkan nama besarnya disandang oleh Dominikus de Guzman bahkan hingga memudarkan namanya sendiri.

Kelahiran Dominikus si anak bungsu diiringi oleh beberapa tanda Ilahi yang menggambarkan masa depannya. Pertama, saat hamil, Juana bermimpi bahwa ia melahirkan seekor anjing berbulu hitam dan putih yang di moncongnya terdapat setangkai obor. Anjing tersebut berlari mengelilingi bola dunia. Obornya menyalakan seluruh dunia, bukan dengan api yang meluluhlantakkan melainkan dengan api yang memurnikan dan menerangi.

Tanda kedua adalah tanggal lahir Dominikus, yang menurut tradisi jatuh pada tanggal 24 Juni, yakni pada Pesta Santo Yohanes Pembaptis. Seperti sang pendahulu Tuhan, nampaknya Dominikus kecil memang telah digariskan untuk menjadi “Suara yang berseruseru di padang gurun” dan “Meluruskan jalan” bagi banyak orang melalui Ordo yang dipimpinnya.

Kemudian, saat Dominikus baru berusia beberapa minggu, Juana dan Felix membawanya ke biara di Silos untuk mempersembahkannya kepada Allah sebagai pemenuhan nazar novena yang telah dikabulkan. Pada waktu imam membalikkan badan untuk mengucapkan Dominus vobiscum, pandangannya tidak sengaja jatuh kepada bayi Dominikus, dan dari mulutnya terucap kata-kata “Ecce Reparator Ecclesia” yang artinya ‘Lihatlah Sang Pembaharu Gereja’. Sadar akan kekeliruannya, imam itu cepat-cepat mengulang bagian teks yang dimaksud, tetapi tiga kali kata-kata yang sama keluar dari mulutnya. Inilah tanda ketiga yang konon menubuatkan jalan hidup Dominikus.

Juana memahami bahwa pendidikan iman anak dimulai dari keluarga. Ditambah dengan kenyataan bahwa pada waktu itu tidak ada sekolah di Caleruega, maka ia sendirilah yang mengurus pendidikan Dominikus kecil pada tahun-tahun awalnya. Ia mengajarkan Dominikus kata-kata manis Salam Maria, serta menumbuhkan kecintaan yang besar kepada Sang Ratu Surga. Devosi ini begitu dalam mengakar di hati Dominikus dan kelak ia gunakan sebagai kunci untuk membuka pintu Surga bagi banyak jiwa-jiwa. Dari sini pula kita dapat dengan aman menyimpulkan bahwa dari ibunya itulah Dominikus belajar nilai-nilai belas kasih dan kesalehan Kristiani. Sebuah peristiwa yang menggambarkan kemurahan hati Beata Juana terjadi pada satu musim dingin yang amat menggigit. Orang-orang miskin di Castile hanya bisa meringkuk kedinginan dan mengertakkan gigi, sementara kaum yang lebih beruntung dapat menghangatkan diri dengan anggur dan api. Saat itu, Felix suami Juana sedang bepergian. Juana yang berjalan-jalan di luar menyaksikan sendiri rakyat yang menderita di tengah tajamnya pisau musim dingin. Tersentuh, ia pun berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk Kristus yang ia lihat di dalam diri orang-orang miskin tersebut. Juana teringat bahwa suaminya memiliki banyak sekali cadangan anggur di gudang bawah tanah mereka, maka ia memutuskan untuk membagi-bagikan anggur itu sehingga orangorang dapat menghangatkan diri. Bersama Dominikus kecil, Juana melaksanakan rencananya dengan hati riang, sebab bukankah Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita? (bdk. 2 Kor 9:7) Ia yang memberi dengan sukacita tentu tidak akan menyesal karena telah memberi! Demikianlah Juana tidak hanya membagikan anggurnya, melainkan membagikan sukacitanya juga! Ketika Felix dalam perjalanan pulang, ia mendengar kabar bahwa istrinya telah menghabiskan stok anggur keluarga untuk orang miskin. Ia terkejut dan buru-buru menanyakan perihal tersebut kepada Juana. Juana, hatinya tetap tenang dan gembira, pergi ke gudang dan berdoa memohon pertolongan Tuhan. Tuhan, yang berkenan atas pemberian Juana yang murah hati, membalasnya dengan mengembalikan isi tong tong anggur mereka dengan melimpah ruah. Kecintaan Juana kepada Kristus di dalam kaum miskin serta kepasrahannya kepada kehendak Allah menginspirasi Dominikus remaja untuk melakukan hal yang serupa, yaitu pada saat Palencia, kota universitas tempat ia belajar, diserang kelaparan Dominikus menjual buku-buku mahalnya dan membagi-bagikan uang hasil penjualan kepada mereka yang kelaparan itu. “Aku tidak menginginkan gulungan kulit mati ketika jelas-jelas ada orang hidup yang kelaparan,” ujarnya. Memang benar bahwa dalam kehidupan Para Kudus, buah seringkali tidak jatuh jauh dari pohonnya!

Saat Dominikus menginjak usia tujuh tahun, Juana memercayakan pendidikan putranya kepada Gumiel de Izan, seorang imam yang juga paman dari Dominikus. Sejak itulah kehidupan publik dan petualangan suci sang santo muda dimulai. Namanya dan jasa-jasanya tercatat dengan tinta emas baik di buku sejarah maupun di dalam Kitab Kehidupan—ia, Ordonya, dan jiwajiwa banyak orang yang dimenangkannya bagi Kristus. Juana meninggal antara tahun 1185 sampai 1194, ketika Dominikus sedang belajar di Universitas Palencia. Ia dimakamkan di Gereja parokinya di Caleruega, namun di kemudian hari jenazahnya dipindahkan ke Penyafiel. Ia dibeatifikasi oleh Paus Leo XII pada tahun 1828.

[/column]

[column width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

Doa
Ya Allah, Engkau berkenan menyatakan kepada hamba-Mu,
Beata Juana, rahmat panggilan mulia putranya, Dominikus yang
tersuci. Kami mohon, agar dengan meneladani Beata Juana dan
Santo Dominikus, dan melalui doa-doa perantaraan mereka,
kami pun pantas menerima ganjaran kekal abadi di Surga.
Melalui Kristus, Tuhan kami. Amin.
(Kalender Umum Ordo Pewarta)

[/column]