SANTA MARINA DARI OMURA
(d. 1634)

• Pesta: 28 September (Kalender Dominikan, dalam
Peringatan St. Lorenzo Ruiz dan rekan-rekan martir di
Jepang), 15 Oktober (kalender umum), 20 Oktober (Kalender
Augustinian)

Di Prefektur Nagasaki, tepatnya di halaman Gereja Katolik
Kakomachi di Omura, kita dapat melihat sebuah patung wanita
Jepang dalam habit Ordo Ketiga Dominikan menggenggam Salib
dan berdiri di tengah nyala api. Wajahnya
bersinar oleh iman,
pengharapan, dan kasih, serta memancarkan kekuatan istimewa
yang mengatasi kekuatan manusia biasa. Ialah Santa Marina dari
Omura. Proses kemartirannya layak direnungkan secara tersendiri,
oleh sebab ia menderita tidak hanya oleh api, melainkan juga oleh
hal lain yang amat dekat di hati bangsa Asia, yakni aib.
Tidak diketahui kapan Marina dilahirkan dan bagaimana
masa kecilnya. Catatan sejarah hanya mengatakan bahwa sejak
muda ia sudah membaktikan hidup dan keperawanannya bagi
Kristus. Marina tinggal di Omura, yang dapat dicapai dalam
beberapa jam menunggang kuda dari Nagasaki. Pada era tersebut,
Omura merupakan salah satu kota pusat Kekristenan di Jepang.
Omura Sumitada, daimyo Omura tiga generasi sebelum Marina,
adalah daimyo pertama Jepang yang dibaptis. Marina sendiri
bergabung dengan Ordo Ketiga Dominikan di bawah bimbingan
Beato Louis Bertrand dari Barcelona, O.P. seorang misionaris
Dominikan dan keponakan dari Santo Louis Bertrand dari Valencia,
O.P.. Pembimbing rohani Marina itu kelak juga menjadi martir
dengan dibakar hidup-hidup, kemudian dibeatifikasi oleh Paus
Pius IX pada tanggal 7 Juli 1867.
Rasa simpati Marina terhadap imam-imam misionaris sudah
menjadi rahasia umum. Kapan ia ditangkap dan diadili, hanya
masalah waktu saja. Marina sendiri tidak membuang-buang tenaga
untuk menciptakan rencana kabur atau menghindari hukuman. Pada
saat ia akhirnya betul-betul ditangkap, ia dengan terang-terangan
mengakui semua tindakan “kriminal”-nya, yaitu mewujudkan amal
kasih yang “berlebihan”, memberi tempat perlindungan bagi imamimam
dan umat yang menjadi buronan, memberi mereka makanan,
pakaian, tempat tidur, bahkan jalan untuk melarikan diri.
Kejujurannya mencengangkan para hakim di pengadilan,
sehingga mereka meminta Marina untuk menerangkan cara
hidup seperti apa yang membuatnya begitu berani di hadapan
kematian sekalipun. Sesudah mereka mendengar tentang janji
kemurnian Maria, para hakim pun memanfaatkan hal tersebut
untuk menjatuhkan hukuman yang amat memalukan, yaitu mereka
memerintahkan agar rambut Marina dicukur habis, sepatunya
disita, dan kemudian diarak keliling kota, bertelanjang rambut
serta bertelanjang kaki. Pada masa itu, hukuman tersebut berarti
Marina memaklumkan diri sebagai seorang pezinah.
Bagi kita di zaman modern dan dalam budaya yang berbeda,
mungkin hukuman semacam itu hampir tidak ada artinya. Tetapi
kita mesti ingat bahwa bangsa Jepang memiliki tradisi kuat menjaga
kehormatan. Kehilangan muka dianggap jauh lebih mengerikan
daripada kehilangan nyawa. Banyak wanita Kristen yang mampu
bertahan saat dianiaya dengan siksaan fisik, lantas menyerah dan
murtad ketika dihadapkan dengan hukuman diarak bertelanjang
kepala dan kaki. Namun bagi Marina, kehormatannya justru adalah
dengan menanggung malu bersama Kristus.
Keteguhan iman Marina menyentuh masyarakat yang
memandangnya sepanjang jalan. Bukannya kehilangan nama
baik, keberanian dan kerendahan hati Marina membuat reputasi
kesalehannya tersiar semakin luas dan meneguhkan hati sesama
umat Kristen.
Konon, dalam perjalanan perarakannya, terjadi setidaknya
satu peristiwa mukjizat. Kala itu perarakan sedang berada jauh
dari sumber air mana pun. Marina, yang kehausan, meminta salah
satu pengawalnya untuk pergi mencari air ke balik bebatuan di
dekat mereka. Awalnya si pengawal mengatakan betapa konyolnya
ide tersebut, sebab mereka sedang berada di tempat yang kering
dan tidak ada air di sekitar situ. Tetapi Marina tetap meminta, dan
benarlah yang dikatakannya, di balik bebatuan ditemukan sebuah
mata air dan bahkan aliran sungai kecil dengan air jernih yang
segar. Menurut kesaksian orang-orang, mata air tersebut tidak ada
di sana sebelumnya, dan mereka memercayai bahwa Tuhanlah
yang meletakkannya di sana secara ajaib untuk menghibur hamba-
Nya yang setia.
Sekembalinya Marina dari perarakan, para hakim sudah
paham bahwa mereka melakukan kesalahan yang fatal. Hukuman
tersebut bukannya membawa aib bagi Marina, namun malah
membuatnya menjadi pahlawan iman. Bahkan orang-orang Jepang
yang masih pagan pun mengaguminya sebagai wanita paling
pemberani di Jepang.
Maka Marina dijatuhi siksaan yang terakhir sekaligus
hukuman mati, yaitu dibakar lambat-lambat. Metodenya adalah
sebagai berikut. Si terhukum diikat di sebuah tiang, kemudian api
dinyalakan dengan jarak yang agak jauh sehingga menyiksa dengan
panasnya secara perlahan. Api itu kemudian dicampur dengan
rerumputan, jerami, tanah, daun dan ranting, serta sedikit air,
sehingga menghasilkan asap hitam tebal yang menyesakkan dan
meracuni pelan-pelan. Pembakaran lambat ini sengaja dilakukan
untuk memperpanjang dan memperberat siksaan, dengan maksud
memberi kesempatan si terhukum untuk murtad di waktu-waktu
terakhir, sebelum akhirnya lidah api melahap habis tubuhnya.
Marina dibakar di Nishizaka, tanah eksekusi bagi ratusan
martir Kristus, pada bulan November 1634, saat ia berusia sekitar
25 tahun. Abunya segera dibuang ke laut supaya tidak disimpan
umat dan dihormati sebagai relikui. Marina mengakhiri hidupnya di
tiang pembakaran bukan dengan teriakan-teriakan kesengsaraan,
namun dengan lantunan syukur dan doa bagi algojonya dan bagi
sesama umat yang dianiaya. Demikianlah nama Marina dari Omura
dikenang sebagai pahlawan Kristen yang tegar dan kuat. Kekuatan
fisik dan mentalnya yang nyaris melampaui kekuatan manusia
biasa, sungguh layak bagi anak Allah yang setia pada iman.
Marina dari Omura bersama lima belas martir Jepang lainnya
dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 18 Februari
1981 di Luneta, Filipina, kemudian dikanonisasi oleh Paus yang
sama di Roma pada tanggal 18 Oktober 1987.

Doa
Ya Allah, Bapa kami, Engkaulah sumber kekuatan bagi Para
Kudus-Mu. Engkau membimbing Santa Marina dari Omura
dan para martir suci Jepang melalui sengsara Salib mereka
hingga mencapai sukacita kekal di Surga. Semoga kami, yang
diteguhkan oleh teladan mereka, mampu untuk setia pada
iman, bahkan sampai mati. Melalui Kristus Tuhan kami, yang
hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, Allah
sepanjang segala masa. Amin.
(Kalender Umum Ordo Pewarta)

Follow us: