Renungan Harian 31 Juli 2022

Published by

Date

[column width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

Suatu pagi, seorang pemulung berjalan melewati jalan yang sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu.
Karena merasa penasaran, ia membungkuk dan mengambilnya.

“Uh…hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok.” gerutunya kecewa.
Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah toko kolektor barang antik. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, pemulung tersebut mulai memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan uang itu.
Ketika melewati sebuah toko bahan bangunan, dilihatnya beberapa lembar kayu. Ia pun berencana untuk membuat sebuah lemari.
Lalu, ia membeli kayu-kayu itu seharga 30 dollar.

Di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang pembuat mebel. Ternyata kayu yang dibawa pemulung itu sangat indah dan berkualitas tinggi.
Maka, pembuat mebel itu menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepadanya. Namun, disana ia melihat lemari yang ia sukai, karenanya ia menukar kayu tersebut dengan lemari itu.

Pemulung itu pun melanjutkan perjalanannya dan melewati komplex perumahan baru.
Nampak seorang wanita sedang mendekorasi rumah barunya, lalu wanita itu melongok keluar jendela dan melihat pemulung itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah.
Si wanita terpikat dan menawar lemari itu dengan harga 200 dollar.
Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Ia pun setuju untuk menjual lemari itu seharga 250 dollar.

Ketika tiba di gapura desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima.
Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar.
Pada saat itu, 2 orang perampok keluar dari semak-semak, menodongkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri pemulung itu kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya bertanya;
“Apa yang terjadi? Apa engkau baik-baik saja? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Pemulung itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh…bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi.”

Sahabat terkasih, jika anda menjadi si pemulung dalam cerita diatas, apa yang akan menjadi reaksi anda?

Dalam hidup, adakala kita ini bisa mendapatkan banyak hal, akan tetapi ada kalanya kita harus kehilangan dan merelakan apa (harta) yang kita punya.
Karenanya, kuncinya adalah kita tidak boleh terikat dan harus sepenuhnya menyadari bahwa semua yang kita punya adalah titipan dari Tuhan.
Jangan sampai kita menjadi stress dan sedih yang berkepanjangan apabila kita harus kehilangan atau tidak mendapatkan apa yang kita harapkan.

Kiranya, pesan yang sama juga dapat kita petik dari perumpamaan ‘Orang kaya yang bodoh’ seperti yang dikisahkan oleh Yesus dalam bacaan Injil di hari Minggu Biasa ke-18 (Lukas 12: 13-21). Yesus menyampaikan perumpamaan tersebut sebagai nasehat kepada orang yang sedang bertikai dengan saudaranya mengenai warisan.
Dimana Yesus pun bersabda:
“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

Semoga, semua ini dapat menginspirasi agar kita dapat senantiasa mensyukuri segala yang kita punya.
Sungguh, kita datang kedunia tanpa membawa apa-apa dan kelak ketika kita kembali pada-Nya kita pun tidak akan dapat membawa apapun sekalipun itu hanya ‘sekeping koin penyok’.
Karenanya, biarlah harta maupun talenta yang kita punya dapat menjadi berkat bagi sesama dan demi kemuliaan Kerajaan Allah.
Hal ini seperti nasehat rasul Paulus kepada jemaat di Kolose (bacaan II):
“Kamu telah dibangkitkan bersama Kristus. Maka, carilah perkara yang di atas, dimana Kristus berada, duduk di sebelah kanan Allah.”

Have a blessed Sunday & God bless 🙏🏻😇

frater Agustinus Hermawan, OP

#pearlofthebrother

[/column]