(1264-1306)

 

Beata Jane (Giovanna), yang populer dengan julukan “Vanna”, merupakan salah satu Stigmatis Dominikan yang kurang akrab di telinga orang Katolik masa kini, namun amat layak untuk kita kenali lebih jauh. Lahir pada tahun 1264 di Carnaiola, dekat Kota Orvieto, Italia, Jane sesungguhnya merupakan keturunan bangsawan, namun keluarganya jatuh miskin akibat perang. Ayahnya meninggal saat ia berusia tiga tahun, disusul sang ibu dua tahun kemudian.

Alhasil Jane kanak-kanak “dibesarkan” oleh tetangga-tetangganya secara sambil lalu. Beberapa teman sepermainan menyebut Jane sebatang kara sebab ia yatim-piatu. Mendengar ini, dengan gembira Jane membawa mereka ke sebuah Gereja, lalu seraya menunjuk sebuah lukisan Malaikat Pelindung, berkata, “Lihat, itulah dia yang menggantikan ayah dan ibuku. Aku punya orang tua yang lebih baik daripada orang tua manapun.”

Jane adalah anak yang saleh dan pandai, yang senang menghabiskan waktunya dalam doa. Sejak belia dia sudah menyadari serta mengandalkan keberadaan Malaikat Pelindung yang menjaganya. Pada akhirnya Jane diadopsi oleh salah satu kerabatnya yang tinggal di Orvieto, dan ia tumbuh besar dengan menekuni pekerjaan sebagai penjahit baju yang handal demi menyokong perekonomian keluarga angkatnya itu.

Jane menikmati pekerjaannya dan ia menjalani harihari dengan tenang tanpa kuatir akan masa depan. Akan tetapi, pikirannya mulai terganggu ketika ia menyadari bahwa pria-pria muda di jalan yang berpapasan dengannya tampak tertarik dengan kecantikan dirinya. Padahal, Jane sudah lama menyerahkan hatinya kepada satu-satunya Kekasih Surgawi yang paling dicintainya.

Ketika keluarga angkatnya mengutarakan harapan mereka agar Jane segera mencari suami, ia pun tak tahan lagi. Jane melarikan diri ke rumah seorang sahabatnya dan di sana ia masuk Ordo Ketiga Dominikan. Di bawah jubah barunya sebagai seorang Mantellate2, ia merasa bebas dan aman dari pandangan mata dan gosip orang banyak. Pada waktu itu usianya baru menginjak 20 tahun.

Namun, kehidupan Jane sebagai seorang Dominikan bukan tanpa hambatan. Beberapa teman lamanya memusuhi dia karena merasa Jane menolak mentah-mentah pria yang mereka pilihkan sebagai calon suami. Ordo sendiri, melihat usia muda dan kecantikannya, menunda menerima Jane sebagai anggota karena tidak ingin menimbulkan skandal. Setelah melewati periode waktu yang cukup lama, yang diisinya dengan banyak berdoa dan berpuasa, Jane akhirnya diterima sebagai anggota Ordo Ketiga serta diizinkan tinggal di rumah Kapitel setempat, di bawah kepala komunitas yang bernama Ghisla.

Jane menggunakan keanggotaan barunya sebagai batu loncatan menuju kekudusan. Setiap hari ia menyibukkan diri dengan berdoa dan bekerja melayani Ordo dan kaum papa. Ia belajar kerendahan hati, kesabaran, cinta kasih, dan melepaskan kelekatan dari hal-hal duniawi. Di atas segalanya, ia belajar untuk menumbuhkan kasih yang berkobar kepada Allah.

Dengan cepat Jane mencapai tingkat kehidupan rohani yang tinggi. Api cinta di dalam jiwanya begitu menyala-nyala sehingga kata-kata sederhana dengan menyebut nama Yesus, Maria, atau penderitaan para martir sanggup membuatnya jatuh ke dalam keadaan ekstase. Bapa pengakuannya belajar untuk sebisa mungkin tidak menyebutkan hal-hal yang dapat menyebabkan ekstase pada Jane sebelum ia selesai memberikan nasihat, sebab episode-episode ekstase tersebut mampu bertahan hingga berjam-jam.

Selain itu, setiap hari Jumat Agung selama sembilan tahun terakhir kehidupannya, Jane dianugerahi ekstase khusus yang luar biasa. Mulai tengah hari sampai malam, tubuhnya akan terbujur kaku dengan kedua lengan terentang membentuk figur salib, dan tulang-tulangnya terdengar berderak tajam seolah sedang dipatahkan. Ia juga meneteskan keringat darah di sekujur tubuhnya, serta menerima Lima Luka Suci Kristus yang tidak kelihatan oleh mata siapa pun selain dirinya.

Seperti semua Orang Kudus lainnya, Jane memiliki devosi yang mendalam pada Ekaristi Kudus. Sekali waktu pada malam Natal, tatkala ia terlalu sakit untuk pergi Misa, muncul sebentuk Hosti Suci yang melayang turun, masuk ke dalam dadanya. Di waktu yang lain, ketika sekali lagi ia tidak mampu menghadiri Misa, Bunda Maria sendiri mendatanginya dan menyerahkan Kanak-kanak Yesus ke dalam pelukannya. Kanak-Kanak Suci itu berkata, “Jane, hari ini, Kamu tidak dapat menyambut Aku di dalam Komuni Kudus, tetapi ketahuilah bahwa Kamu senantiasa memiliki Aku melalui rahmat.” Jane yang rendah hati berupaya keras untuk menyembunyikan pengalaman-pengalaman mistiknya.

Tetapi masalah privasi ini rupanya dikehendaki Allah untuk menjadi salah satu Salib terbesarnya. Setiap kali Jane mengalami ekstase, seisi kota akan berbondong-bondong pergi menonton dirinya.

Jane sangat membenci semua perhatian itu, ia membujuk kepala komunitasnya agar jangan mempersilakan siapa pun menontonnya. Akan tetapi kepala komunitas itu sendiri merasa tertarik dan ia merupakan salah satu “penonton” rutin Jane. Ia merasa tidak ada salahnya membiarkan orang melihat kesalehan Jane.

Orang-orang kerap mengantre untuk meminta berkat dan nasihat rohani darinya. Jane mengatakan berulang-ulang bahwa ia hanyalah pendosa biasa yang tidak pantas untuk dihormati sedemikian rupa. Meskipun demikian, nasihat rohaninya memang menyentuh jiwa pendengarnya sehingga banyak dari mereka yang terpanggil untuk hidup religius.

Jane justru sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang bersikap nyinyir terhadapnya. Sekali waktu, seorang wanita datang mencercanya dengan kata-kata kotor. Ia berkata kepada wanita itu, “Maafkan Aku karena Aku terlalu lemah untuk melakukan silih yang berat bagi jiwamu, tapi Aku akan dengan senang hati mendaraskan dua ratus Bapa Kami dan Salam Maria untukmu.” Sampai-sampai di Kota Orvieto tersiar ungkapan bahwa agar seseorang dapat didoakan oleh Jane, orang itu harus menghinanya terlebih dahulu.

Salibnya yang lain lagi adalah kesakitan fisik yang terusmenerus tanpa pernah menampakkan tanda-tanda perbaikan. Penyakitnya yang serius baru sembuh ketika Tuhan Yesus datang dalam sebuah penampakan cahaya yang amat terang, lalu menyuruhnya minum dari cawan anggur yang Ia bawa.

Mendekati akhir hidupnya, Jane memperoleh berkat dalam wujud kehadiran Beato James dari Bevagna sebagai pembimbing rohaninya. James (Giovanni) Bianconi dari Bevagna adalah seorang. Biarawan Dominikan yang suci dan juga pernah mengalami sendiri berbagai peristiwa mistik. Pada waktu itu, James menjabat sebagai lektor dan pewarta3 di Biara Dominikan di Orvieto.

Bulan Agustus 1301 James mengunjungi biara di Bevagna yang dibangun olehnya. Di sana ia diserang oleh penyakit berat sehingga tidak lama kemudian ia wafat dengan tenang dan bahagia. Jane, yang belum mengetahui kabar itu, tengah berdoa di Gereja biara di Orvieto tatkala ia melihat bapa pengakuannya muncul menghampirinya. Jane amat bersukacita, dan segera meminta pengakuan dosa. James melayani pengakuan dosa itu seperti biasa, lalu memberikan Jane ikat pinggang serta pisaunya.

“Ambillah dan simpanlah ini, supaya Engkau dapat mengenang Aku,” ujar James.

Siang harinya, Jane mengirimkan hadiah kecil untuk bapa pengakuannya lewat seorang pesuruh. Namun si pesuruh kembali dengan membawa kabar bahwa James sudah meninggal di Bevagna.

“Tidak mungkin!” seru Jane, “Aku baru melihatnya di Gereja pagi ini!”

Ia pun menunjukkan ikat pinggang dan pisau yang disimpannya, dan para imam di biara mengakui bahwa benda-benda tersebut benar kepunyaan Beato James.

Jane mempersiapkan sendiri saat ajalnya dengan penuh semangat. Dengan dibekali sakramen-sakramen Gereja, ia akhirnya pergi menyambut Kekasih Surgawinya pada tanggal 23 Juli 1306. Lima belas bulan setelah kematiannya, kuburnya dibuka untuk dipindahkan ke tempat yang lebih layak di Kapel Tiga Raja, dan ternyata jenazahnya ditemukan tidak membusuk. Proses pemindahan jenazahnya pun diwarnai dengan berbagai mukjizat, sesuai dengan yang pernah dinubuatkannya sendiri semasa hidupnya.

Empat ratus tahun kemudian, pada tanggal 11 September 1754, Jane dari Orvieto memperoleh gelar Beata dari Paus Benediktus XIV.

Doa

Ya Allah, yang mengganjar kemurnian dan kasih yang menyalanyala dari Beata Jane dengan karunia-karunia Surgawi yang berlipat ganda, berilah supaya kami dapat meneladani keutamaan-keutamaannya, agar kami kian berkenan kepadaMu, melalui kemurnian hidup dan kesucian cinta kami. Melalui Kristus, Tuhan kami. Amin.

(Kalender Umum Ordo Pewarta)