(1382-1464)

 

Beata Margaret dari Savoy adalah Orang Kudus yang menarik. Pertama, ia dihormati baik sebagai awam maupun sebagai biarawati. Kedua, Beata Margaret merupakan satu dari tiga putri kerajaan yang memperoleh kehormatan menyandang habit Dominikan dan ditinggikan di altar Tuhan. Dua putri lainnya yaitu Santa Margaret dari Hungaria, yang adalah keponakan dari Santa Elisabet dari Hungaria serta Beata Jane (Joan) dari Portugal.

Ketiga, Kerajaan Savoy patut berbesar hati akan kebaikan Allah sebab Margaret merupakan salah satu dari beberapa anggota keluarga Savoy yang digelari kudus. Lahir pada tahun 1382 sebagai putri tertua dari Lord Amadeus dari Savoy dan Katarina dari Jenewa, sejak kecil Margaret sudah terbiasa baik dengan kekayaan materi maupun rohani.

Kedua orang tuanya meninggal sebelum ia menginjak usia remaja, sehingga pendidikan dan pengasuhannya diserahkan kepada keluarga pamannya. Kecantikan dan budi baik Margaret membuat banyak pria bangsawan ingin meminangnya. Paman Margaret akhirnya menyerahkannya dalam pernikahan kepada Theodorus II, Marquis dari Montserrat, sehingga Margaret pun memperoleh gelar baru sebagai Marchioness dari Montserrat. Sejarah mencatat pernikahan tersebut dilangsungkan pada tanggal 17 Januari 1403.

Sebagai penguasa atas wilayah yang cukup besar, Margaret dan Theodorus menjadi contoh penguasa Kristen yang baik. Margaret menganggap bahwa cinta kasih dan kerendahan hati harus senantiasa berbanding lurus dengan, bahkan melebihi, jumlah kekayaannya. Karena itulah ia tidak segan-segan membaktikan waktu dan tenaga melayani Allah dan sesama, termasuk merawat anak-anak tiri dari suaminya dengan sepenuh hati.

Theodorus II, yang dijuluki Theodorus yang Saleh, betulbetul pendamping yang serasi bagi Margaret. Bersama-sama mereka menunjukkan bagaimana kebajikan seharusnya menghiasi takhta seorang penguasa. Ketika bencana kelaparan dan wabah menyerang Savoy, Margaret ikut keluar merawat orang-orang sakit dengan tangannya sendiri. Ia dan suaminya terus mengirimkan bantuan makanan dan pakaian dari simpanan pribadi, sehingga hampir tidak ada yang tersisa untuk mereka sendiri.

Allah memberkati pasangan itu lebih lanjut, yaitu dengan mengirimkan St. Vincentius Ferrer, seorang biarawan Dominikan yang terkenal akan khotbahnya yang berapi-api dan ajaib karena mampu membuahkan pertobatan massal pada siapa pun yang mendengarnya. Margaret menjadikan St. Vincentius sebagai pembimbing rohaninya, dan sejak itu ia makin bertekun dalam doa dan praktik matiraga yang ketat namun tersembunyi.

Theodorus II meninggal pada tahun 1418, tahun kelima belas pernikahan mereka, dan ini membuat Margaret sekali lagi menjadi wanita impian nomor satu di Eropa. Namun Margaret telah menegaskan kepada sanak-saudaranya bahwa ia tidak mencari suami lagi, sebab ia sudah mengkonsekrasikan diri kepada satu-satunya Raja yang Kekal. Margaret pun memutuskan untuk menyepi di kota kecil Alba.

Akan tetapi Philip Visconti, Duke dari Milan, bukan seseorang yang dapat menerima penolakan begitu saja. Mengetahui bahwa Margaret telah mengucap janji kemurnian secara pribadi, ia pergi menghadap Paus untuk memohon dispensasi dari janji tersebut. Setelah mendapatkannya, ia mengejar Margaret dengan semangat baru, hanya untuk memperoleh penegasan kembali bahwa wanita suci itu tidak pernah bermimpi mencari dispensasi dari janji setianya kepada Allah, Sang Kekasih Jiwa.

Demi menyatakan kesungguhan hatinya secara terangterangan, Margaret pun bergabung dengan Ordo Ketiga Dominikan dan mengenakan habit mereka. Hal itu dilakukannya atas nasihat dari St. Vincentius Ferrer sendiri, yang pada waktu itu sudah meninggal namun menampakkan diri kepada Margaret untuk menghiburnya dan memberikannya bimbingan rohani seperti dahulu.

Jubah Ordo yang kini dikenakannya mendorong Margaret semakin bersemangat dalam pelayanan kepada kaum papa dan orang sakit. Akan tetapi, tidak lama kemudian ia sendiri diserang penyakit yang cukup berat hingga ia hampir tidak mampu bangun dari ranjang. Saat sakit itulah, Tuhan menampakkan diri dengan dikelilingi banyak Malaikat. Ia menggenggam dalam tangan-Nya yang kudus tiga buah anak panah yang masing-masing bertuliskan: Fitnah, Penyakit, dan Penganiayaan.

“Putriku, pilihlah salah satu dari tiga anak panah ini,” Tuhan berkata kepada Margaret.

Margaret dengan rendah hati berkata bahwa ia menyerahkan keputusan kepada kehendak Ilahi saja. Demikianlah Tuhan berkenan memberikan semua anak panah itu, yang ketiga-tiganya diterima Margaret dengan penuh cinta.

Tidak butuh waktu lama hingga gambaran itu menjadi kenyataan. Segala bentuk kemalangan menimpa Margaret bertubitubi. Fitnah yang paling buruk berasal dari Duke dari Milan, yang cintanya pernah ditolak oleh Margaret. Ia bersaksi dusta di hadapan Paus bahwa Margaret menyebarkan ajaran sesat. Namun semua kesusahan itu justru menumbuhkan devosi yang makin mendalam dalam diri Margaret untuk mempersembahkan seluruh dirinya bagi Allah.

Ia mengambil alih sebuah biara di Alba yang hampir runtuh dan membangunnya kembali sebagai Biara Santa Maria Magdalena. Margaret dan rekan-rekannya membentuk komunitas biarawati kontemplatif Dominikan berjumlah enam puluh orang. Margaret sendiri menjadi kepala biara, sedangkan seorang Imam Dominikan bernama Manfred diangkat sebagai Vikarius Apostolik dan Superior mereka. Oleh sebab itulah, Margaret dihormati sebagai awam sekaligus sebagai biarawati, karena ia memulai panggilannya sebagai seorang wanita awam namun mengakhirinya sebagai biarawati.

Sebagai kepala komunitas, Margaret bertekad untuk menjaga dan merawat semangat religius yang sejati pada para biarawati, yang dianggapnya sebagai putri-putri rohaninya sendiri. Tidak sedikit yang melayangkan kritik bahwa Margaret terlalu keras dalam mengurus biara itu. Namun Allah berkenan memberikan Margaret karunia menilik ke dalam jiwa-jiwa. Ketika seorang suster yang memiliki reputasi sebagai orang suci di komunitas itu meninggal, dan suster-suster lainnya begitu berdukacita serta sibuk mengagumi kesucian saudari mereka, Margaret tidak langsung percaya begitu saja. Ia meragukan citra kesucian sang suster yang tampaknya mampu mempengaruhi para suster yang lain. Diamdiam, Margaret berdoa memohon kepada Allah agar ia diizinkan mengetahui kebenaran tentang hal tersebut.

Dalam doanya, suster yang telah meninggal itu menampakkan diri dan memberi tahu Margaret bahwa jiwanya telah binasa. “Sebab aku melakukan segala perbuatan baikku karena aku ingin dipuji orang,” ujar jiwa suster yang malang itu. Kemudian ia membungkuk meraup debu tanah dan melemparnya ke udara dengan amat pedih seraya berseru:

“Seperti debu inilah semua perbuatanku dulu!”

Tradisi mencatat sebuah kisah kecil yang menarik tentang Margaret dan seekor rusa. Suatu hari, biara tersebut kedatangan seorang tamu, yang tak lain adalah putra dari salah satu anak tiri Margaret. Pemuda itu bercerita bahwa ia baru saja berburu rusa betina, lalu ia menyerahkan anak rusa yang kehilangan induknya itu kepada Margaret. Anak rusa itu tumbuh menjadi rusa dewasa yang ajaib, yang mampu mengenali dan menemukan suster mana pun yang dipanggil oleh Margaret. Imam yang menjadi bapa pengakuan bagi komunitas itu menasihatkan bahwa sebaiknya rusa itu dilepas kembali ke rimba bebas, dan hal itu pun dilakukan oleh Margaret dengan taat.

Konon, rusa itu kemudian kembali saat Margaret terbaring di ranjang kematiannya. Sepanjang sisa hidupnya, Margaret mengerjakan banyak mukjizat, seperti menyembuhkan orang sakit secara ajaib, menggandakan persediaan makanan biara yang menipis, dan meredakan badai yang mengancam Kota Alba. Tatkala badai itu surut sebelum sampai ke kota oleh karena doa-doa Margaret, terdengar gaung suara murka roh-roh jahat di udara yang mengutuknya karena mengacaukan rencana busuk mereka.

Dua hari sebelum wafat, Margaret meminta para biarawati untuk menggotong dirinya dari ranjang dan meletakkannya tengkurap di hadapan kaki Tuhan. Para biarawati menuruti permintaannya, meskipun mereka tidak melihat apa-apa. Namun tiba-tiba sel Margaret menjadi terang-benderang bermandikan cahaya Surgawi, ditemani nada-nada merdu paduan suara Malaikat.

Dalam cahaya itu tampaklah Kristus sendiri, yang langsung disembah oleh Margaret dengan penuh cinta. Peristiwa tersebut berulang keesokan harinya, pada Pesta Santa Cecilia. Hari itu Margaret menerima Sakramen-sakramen Terakhir. Tubuhnya tampak disokong oleh seorang biarawati tidak dikenal yang kemudian dipercayai sebagai Santa Katarina dari Siena.

Margaret wafat pada tanggal 23 November 1464, setelah menyelesaikan hidup penuh fitnah, penyakit, dan penganiayaan, sesuai kehendak Allah yang dijalaninya dengan sukacita. Loncenglonceng di biara itu berdentang sendiri, membangunkan para penduduk Alba, yang lantas menyaksikan di langit sebuah arakarakan Para Kudus dengan obor menyala di tangan mereka, bergerak ke arah Biara St. Maria Magdalena. Margaret dari Savoy dibeatifikasi oleh Paus Klemens IX pada tanggal 9 Oktober 1669.

Doa
Ya Allah, Engkau mengajarkan Beata Margaret untuk meninggalkan kemegahan dunia demi mengikuti Salib-Mu yang hina. Semoga melalui jasa-jasa dan teladannya, kami belajar untuk menginjak-injak kenikmatan dunia yang fana ini, dan belajar merengkuh Salib-Mu yang menang atas segala kejahatan. Melalui Kristus, Tuhan kami. Amin.
(Kalender Umum Ordo Pewarta)