(1493-1565)

Ordo Dominikan didirikan dan dikenal sebagai Ordo kontemplatif-aktif. Oleh karena itu, mungkin mengherankan bagi beberapa orang bahwa Ordo ini menghormati seorang beata yang menghabiskan hidupnya sebagai pertapa soliter (Latin: reclusa incarcerata), yang tidak tinggal dalam sebuah komunitas.

Beata Osanna dari Cattaro adalah nama wanita awam yang mengherankan itu. Jovana Kosic lahir pada tanggal 25 November 1493 di desa Kumano, di daerah Montenegro yang dahulu merupakan bagian dari negara Yugoslavia. Keluarganya bukan keluarga Katolik. Ia dibaptis di Gereja Ortodoks Yunani sesuai tradisi orang tuanya. Ayahnya, kakeknya, dan beberapa orang buyutnya merupakan imam-imam Ortodoks, sehingga tradisi-tradisi religius mengakar kuat dalam keluarga Kosic.

Jovana menghabiskan masa kecilnya di padang rumput yang tenang di pinggir pedesaan, tempat ia menggembalakan kawanan domba milik keluarga. Oleh sebab ia bekerja sendirian hampir setiap waktu, maka ia mengembangkan kebiasaan doa kontemplatif sambil menunggui domba-domba. Suatu hari, ia menemukan seorang Bayi yang amat manis tertidur di rerumputan. Tertarik oleh keindahan-Nya, ia mendekati Bayi tersebut, bermaksud untuk mendekap-Nya.

Namun Ia lenyap begitu saja, sehingga mengherankan Jovana. Hatinya mendadak dipenuhi oleh rasa kerinduan baru yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Jovana memberi tahu sang ibu tentang pengalaman ini, tetapi ibunya hanya tertawa dan mengatakan bahwa Allah tidak mungkin mengunjungi orang-orang miskin seperti mereka. Tidak hanya satu kali Kristus menampakkan diri kepada Jovana sebagai Bayi Kudus.

Tetapi karena sudah tahu bahwa orang-orang di rumah tidak ada yang memercayainya, Jovana menyimpan semua pengalaman itu di dalam hatinya. Kemudian timbul sebuah keinginan aneh dalam dirinya untuk pergi ke Cattaro, sebab di sana ada beberapa Gereja yang diyakini Jovana akan menjadi tempat yang baik untuk tinggal dan berdoa. Tentu saja ibunya menganggap keinginan ini aneh, sebab mereka belum pernah melihat sendiri Kota Cattaro.

Tapi bagaimana pun juga ia mengatur keberangkatan Jovana ke Cattaro dengan cara mempekerjakannya sebagai pelayan untuk seorang wanita kaya. Mereka tidak tahu bahwa wanita tersebut adalah orang Katolik yang saleh. Jovana pergi ke Cattaro dengan penuh sukacita, dan ia melayani majikannya yang baik hati dengan bersemangat.

Di Cattaro, Jovana meninggalkan tradisi Ortodoks Timur dan menjadi seorang Katolik. Ia mengubah namanya menjadi Katarina. Di waktu luangnya ia belajar membaca dan menulis. Ia mempelajari bahasa Latin dan bahasa Italia, serta banyak membaca Kitab Suci. Majikannya sama sekali tidak mempermasalahkan Katarina memperdalam kehidupan rohaninya. Lambat laun Katarina tidak puas akan hidupnya.

Ia masih menginginkan persembahan hidup yang lebih sempurna kepada Allah. Secara spesifik, ia mendambakan hidup sebagai pertapa soliter, terpisah dari siapa pun dan apapun. Pembimbing rohaninya berpendapat bahwa Katarina masih terlalu muda (waktu itu ia berusia remaja), tetapi Katarina terus membujuk. Setelah banyak diskusi dan doa, keduanya memutuskan bahwa Katarina layak untuk menjadi pertapa.

Kita tidak tahu banyak mengenai bentuk panggilan khusus ini. Namun di Abad Pertengahan, hampir setiap Gereja atau tempat ziarah mempunyai satu atau lebih sel terpisah bagi para pertapa soliter yang membaktikan diri bagi doa dan silih. Sel-sel tersebut berukuran kecil tanpa isi, dilengkapi dengan dua jendela mungil, satu untuk si pertapa mendengarkan Misa Kudus dan satu untuk berinteraksi dengan para peziarah yang hendak memohon doa atau menyumbangkan makanan. Katarina mengucapkan kaul stabilitas dalam upacara yang khidmat, lalu masuk ke dalam selnya dan sel tersebut pun disegel.

Tidak lama setelah itu, bencana gempa bumi menghancurkan sel pertapaan Katarina, sehingga ia pindah ke sel baru di Gereja Santo Paulus. Dalam pertapaannya yang kedua ini ia bergabung dengan Ordo Ketiga Dominikan, dan ia menghabiskan 52 tahun sisa hidupnya menghayati spiritualitas Dominikan. Ia memilih nama baru Osanna, sebab ia mengagumi Beata Osanna dari Mantua, awam Dominikan yang baru meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Hidupnya sebagai pertapa soliter dipenuhi dengan laku matiraga, hampir tanpa kenyamanan apapun. Katarina, kini disebut Osanna, mengenakan pakaian yang paling kasar, nyaris tidak makan apapun, dan harus bertahan dalam segala cuaca dan dalam ruangan sel yang sempit. Namun sel itu seringkali menerima kunjungan dari beberapa penghuni Surga. Kristus sering menampakkan Diri-Nya dalam rupa Bayi yang dahulu dilihat Osanna di padang rumput.

Bunda Maria juga datang ditemani Orang-orang Kudus. Osanna juga beberapa kali kedatangan tamu tak diharapkan, yaitu setan-setan yang berusaha menggodanya untuk menghentikan doa-doanya. Sekali waktu ada setan yang menyamar sebagai Bunda Maria dan memerintahkan Osanna untuk meringankan matiraganya. Dengan ketaatan sederhana pada pembimbing rohaninya, Osanna dapat dengan mudah menguak tipu daya itu dan mengusir si setan dari selnya.

Orang mungkin bertanya, apabila Osanna mengucilkan diri seperti itu, di manakah letak aspek pewartaan yang menjadi ciri khas Dominikan? Patut diketahui bahwa hidup Osanna yang seorang diri itu sama sekali jauh dari sifat egois. Sekelompok wanita Ordo Ketiga yang berdiam di dekat lokasi sel Osanna kerap mengunjunginya untuk memohon nasihat-nasihat rohani. Dengan senang hati Osanna membagikan penghayatan spiritualnya kepada mereka dan mengajarkan mereka kebenaran-kebenaran Ilahi yang diperolehnya dari pengalaman mistik.

Wanita-wanita Ordo Ketiga itu menganggap Osanna sebagai pemimpin mereka, bahkan menyebutnya sebagai pendiri komunitas walau Osanna sendiri malah belum pernah melihat rumah komunitas tersebut. Tidak hanya para anggota Ordo, penduduk sekitar Cattaro pun berbondong-bondong menjadi pengikut Osanna yang setia. Mereka menjulukinya “Guru Mistisisme”, “Sangkakala Roh Kudus”, juga “Perawan Penebar Kedamaian” dan “Malaikat Perdamaian”, oleh sebab nasihat Osanna seringkali berhasil mendamaikan pihakpihak yang berseteru.

Ketika pada tahun 1539 kota itu terancam oleh invasi pasukan Muslim dari Kekaisaran Ottoman Turki, mereka berlari kepada Osanna memohon perlindungannya. Kota Cattaro akhirnya diluputkan dari invasi, dan masyarakat menganggap keselamatan mereka sebagai hasil dari doa-doa Osanna. Di lain waktu, kota itu juga secara ajaib diselamatkan dari bahaya wabah penyakit. Osanna sang pertapa awam meninggal dalam usia 72 tahun. Ia dimakamkan dengan penuh hormat di Gereja Santo Paulus, kemudian tahun 1807 dipindahkan ke Gereja Santa Maria di kota yang sama, setelah pasukan Prancis mengubah Gereja Santo Paulus menjadi gudang. Ia dibeatifikasi pada tahun 1934 oleh Paus Pius XI dan diangkat sebagai pelindung Kota Cattaro, Montenegro.

Doa
Ya Allah yang Maharahim, nyalakanlah api kecintaan akan Salib Kristus di dalam hati kami. Semoga melalui doa dan hidup Beata Osanna, hamba-Mu, yang menderita bagi persatuan Gereja, kami boleh ikut ambil bagian baik dalam sengsara-Mu maupun kemuliaan-Mu. Melalui Kristus, Tuhan kami. Amin.
(Kalender Umum Ordo Pewarta)