(1287-1367)

Sibyllina Biscossi lahir pada tahun 1287 di Pavia, Italia dari sepasang orang tua yang saleh dan terhormat. Namun sayangnya, orang tuanya segera dipanggil Tuhan tidak lama setelah ia lahir. Para tetangga merawat Sibyllina kecil secara bergantian, dan ketika anak itu telah cukup besar untuk bisa membantu sedikit-sedikit, ia pun bekerja untuk keluarga-keluarga tetangganya sebagai pembantu rumah tangga.

Ketika Sibyllina menginjak usia 12 tahun, kebutaan merenggut penglihatannya sehingga ia tidak lagi bisa bekerja. Tanpa penghasilan, Sibyllina yang awalnya sudah berkekurangan, kini semakin melarat. Beberapa wanita dari Kapitel Ordo Ketiga Dominikan di kota itu merasa kasihan padanya. Mereka lantas membawa Sibyllina yang malang ke rumah Kapitel untuk tinggal dan dirawat di sana sebagai anak adopsi.

Setelah beberapa lama menerima belas kasih dan kemurahan hati saudari-saudarinya yang baru, Sibyllina merasa terinspirasi untuk berga-bung. Kapitel itu menerimanya, tetapi lebih atas dasar kasihan daripada berharap Sibyllina akan banyak membantu kegiatan kerasulan mereka.

Tetapi terkejutlah mereka, dan juga amat bergembira, ketika melihat betapa mengagumkan kebesaran Allah yang ditunjukkan melalui remaja buta itu. Sibyllina cepat belajar mendaraskan Ofisi dengan sangat baik dan merdu, dan dengan cepat pula menyerap pelajaran tentang doa-doa batin dan spiritualitas, seolah ia memang dilahirkan untuk itu. Lalu, menyadari bahwa ia tidak mampu melakukan pekerjaan fisik untuk membantu komunitas Ordo, Sibyllina membebankan kepada dirinya sendiri tanggung jawab besar untuk berdoa.

Sibyllina mengembangkan sebuah devosi mendalam kepada Bapa St. Dominikus, dengan harapan penglihatannya akan dipulihkan sehingga ia bisa menjadi lebih berguna bagi Ordo. Doanya kepada Allah melalui perantaraan St. Dominikus bertambah tekun dan penuh semangat, seiring pergantian hari dan minggu.

Sibyllina yakin sekali bahwa pada Pesta St. Dominikus, doanya akan dikabulkan. Hari pesta yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ibadat Pagi dilaluinya tanpa peristiwa apapun. Kemudian Ibadat Siang, Ibadat Sore, dan seterusnya hingga Ibadat Malam usai, Sibyllina masih tetap buta. Ia sangat kecewa dan bingung, apakah yang salah, apakah yang kurang, dengan doanya selama ini, hingga Allah tidak berkenan mendengarnya?

Patah hati, ia menjatuhkan diri di kaki patung St. Dominikus, mengharap-harap ibanya. Pada saat itu juga Sibyllina diselimuti sebuah penglihatan: St. Dominikus muncul dan mendatanginya. “Anakku, mari ikutlah Aku,” ujar sang bapa seraya menggenggam tangan putrinya. Sibyllina diajak menyusuri sebuah jalan yang sempit dan gelap gulita, tanpa secercah cahaya sedikit pun.

Jalan ini amat menakutkan baginya, tetapi St. Dominikus terus membimbingnya melewati kegelapan itu, hingga akhirnya mereka mencapai sebuah tempat yang terang-benderang dengan cahaya kemuliaan yang indah. “Di dunia ini, Anakku, Kamu harus menanggung kegelapan supaya kelak boleh melihat terang yang kekal,” kata St. Dominikus, sebelum lenyap bersama penglihatannya.

Sejak itu, hati Sibyllina dipenuhi kedamaian. Ia tidak lagi berkeinginan untuk dapat melihat, sebab ia telah memahami bahwa kebutaan merupakan alat yang dipakai Allah untuk memurnikan dirinya. Dengan kebutaan di bumi, ia akan dapat memandang cahaya kebahagiaan abadi di Surga nanti. Sibyllina merengkuh Salib itu dengan mesra, dan ia pun semakin berbakti dalam devosinya pada Sengsara Suci Kristus.

Setelah ia menerima cukup pelajaran dan latihan kerohanian, Sibyllina meminta izin untuk pergi dari komunitas itu dan hidup sebagai pertapa seorang diri. Pada waktu itu usianya 15 tahun. Sibyllina membangun sel mungil di dekat sebuah Gereja Dominikan, di situ ia menghabiskan sisa 65 tahun peziarahannya di bumi. Tercatat bahwa ia meninggalkan selnya itu hanya dua kali sepanjang hidupnya, itu pun atas dasar ketaatan pada perintah.

Tujuh tahun pertama diakuinya sebagai yang terberat. Musim dingin di Pavia sangat kejam dan menggigit, tetapi ia memaksakan diri bertahan tanpa api. Pakaiannya selalu sama baik pada musim panas maupun musim dingin. Satu-satunya cara untuk tidak mati membeku adalah dengan terus bergerak, maka Sibyllina pun mempraktikkan banyak doa dengan gerakan tubuh seperti berlutut, berdiri, dan bertiarap, serta melakukan berbagai matiraga. Ia tidur di papan dan makannya sedikit sekali.

Hanya dengan satu buah jendela mungil, Sibyllina berhubungan dengan dunia luar. Lewat jendela itu, orang-orang yang sakit dan para pendosa berbicara kepadanya dan memohon doanya. Sibyllina berdoa bagi mereka semua, dan mengerjakan banyak mukjizat bagi rakyat Pavia. Orang-orang yang meminta nasihat pun dilayaninya dengan sabar dan sukacita. Walaupun ia tak pernah bersekolah, namun ia dikaruniai pengetahuan dan kefasihan berbicara tentang perkara-perkara Ilahi, dengan kejernihan dan keakuratan teologis yang mencengangkan.

Banyak orang berdosa dipertobatkan oleh nasihat-nasihat dan doa-doanya. Demikianlah Sibyllina membuktikan dirinya sebagai putri St. Dominikus yang sejati, seorang pewarta dan pendoa yang peduli akan keselamatan jiwa-jiwa. Selama mengasingkan diri, Sibyllina memperoleh sejumlah penglihatan dan wahyu pribadi dari Surga. Roh Kudus begitu aktif berkarya di dalam dirinya. Ia mendapatkan sebagian besar karunianya pada Hari Raya Pentakosta, seolah hendak mengulang Pentakosta pertama yang dialami oleh para murid Tuhan.

Banyaknya karunia dan rahmat pada dirinya tidak lantas membuat Sibyllina melalaikan doa-doa “biasa”. Ia tak pernah absen menghadiri semua Misa dan Ibadat Harian di Gereja. Sisa waktu saat tidak berdoa, dihabiskannya dengan mengemis untuk orang miskin. “Mata rohani” Sibyllina mampu mengenali Kehadiran Nyata di dalam Ekaristi Kudus. Sekali waktu, ia memperingatkan seorang imam yang lewat di dekat selnya bahwa Hosti Viatikum yang tengah dibawanya untuk orang sakit itu belum dikonsekrasi. Setelah diselidiki lebih lanjut, perkataan Sibyllina terbukti benar.

Sibyllina Biscossi, Si Pembantu yang menjadi pewarta, akhirnya pergi menghadap Majikannya pada hari Jumat, 19 Maret 1367, dalam usia 80 tahun. Ia dibeatifikasi pada tanggal 17 Agustus 1854 oleh Paus Pius IX. Tubuhnya ditemukan tak membusuk ketika makamnya dibuka pada tahun 1853. Beata Sibyllina dihormati sebagai pelindung para pelayan dan pembantu rumah tangga.

Doa
Ya Allah, Engkau berkenan menerangi Beata Sibyllina, bukan dengan penglihatan jasmani, melainkan dengan penglihatan rohani yang cemerlang. Nyalakanlah hati kami dengan api Roh Kudus, supaya kami pun membutakan diri terhadap kemuliaan dunia ini dan mencari hanya hal-hal yang kekal abadi. Melalui Kristus, Tuhan kami. Amin.
(Kalender Umum Ordo Pewarta)