[text_divider type=”double”]

(d. 1634)

[/text_divider]

[column width=”2/3″ title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[/column]

[column width=”1/3″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[/column]

[column width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[dropcap type=”1″]D[/dropcap]i Prefektur Nagasaki, tepatnya di halaman Gereja Katolik Kakomachi di Omura, kita dapat melihat sebuah patung wanita Jepang dalam habit Ordo Ketiga Dominikan menggenggam Salib dan berdiri di tengah nyala api. Wajahnya bersinar oleh iman, pengharapan, dan kasih, serta memancarkan kekuatan istimewa yang mengatasi kekuatan manusia biasa. Ialah Santa Marina dari Omura.

Proses kemartirannya layak direnungkan secara tersendiri, oleh sebab ia menderita tidak hanya oleh api, melainkan juga oleh hal lain yang amat dekat di hati bangsa Asia, yakni aib. Tidak diketahui kapan Marina dilahirkan dan bagaimana masa kecilnya. Catatan sejarah hanya mengatakan bahwa sejak muda ia sudah membaktikan hidup dan keperawanannya bagi Kristus. Marina tinggal di Omura, yang dapat dicapai dalam beberapa jam menunggang kuda dari Nagasaki. Pada era tersebut, Omura merupakan salah satu kota pusat Kekristenan di Jepang.

Omura Sumitada, daimyo Omura tiga generasi sebelum Marina, adalah daimyo pertama Jepang yang dibaptis. Marina sendiri bergabung dengan Ordo Ketiga Dominikan di bawah bimbingan Beato Louis Bertrand dari Barcelona, O.P. seorang misionaris Dominikan dan keponakan dari Santo Louis Bertrand dari Valencia, O.P.. Pembimbing rohani Marina itu kelak juga menjadi martir dengan dibakar hidup-hidup, kemudian dibeatifikasi oleh Paus Pius IX pada tanggal 7 Juli 1867.

Rasa simpati Marina terhadap imam-imam misionaris sudah menjadi rahasia umum. Kapan ia ditangkap dan diadili, hanya masalah waktu saja. Marina sendiri tidak membuang-buang tenaga untuk menciptakan rencana kabur atau menghindari hukuman. Pada saat ia akhirnya betul-betul ditangkap, ia dengan terang-terangan mengakui semua tindakan “kriminal”-nya, yaitu mewujudkan amal kasih yang “berlebihan”, memberi tempat perlindungan bagi imamimam dan umat yang menjadi buronan, memberi mereka makanan, pakaian, tempat tidur, bahkan jalan untuk melarikan diri.

Kejujurannya mencengangkan para hakim di pengadilan, sehingga mereka meminta Marina untuk menerangkan cara hidup seperti apa yang membuatnya begitu berani di hadapan kematian sekalipun. Sesudah mereka mendengar tentang janji kemurnian Maria, para hakim pun memanfaatkan hal tersebut untuk menjatuhkan hukuman yang amat memalukan, yaitu mereka memerintahkan agar rambut Marina dicukur habis, sepatunya disita, dan kemudian diarak keliling kota, bertelanjang rambut serta bertelanjang kaki. Pada masa itu, hukuman tersebut berarti Marina memaklumkan diri sebagai seorang pezinah.

Bagi kita di zaman modern dan dalam budaya yang berbeda, mungkin hukuman semacam itu hampir tidak ada artinya. Tetapi kita mesti ingat bahwa bangsa Jepang memiliki tradisi kuat menjaga kehormatan. Kehilangan muka dianggap jauh lebih mengerikan daripada kehilangan nyawa. Banyak wanita Kristen yang mampu bertahan saat dianiaya dengan siksaan fisik, lantas menyerah dan murtad ketika dihadapkan dengan hukuman diarak bertelanjang kepala dan kaki.

Namun bagi Marina, kehormatannya justru adalah dengan menanggung malu bersama Kristus. Keteguhan iman Marina menyentuh masyarakat yang memandangnya sepanjang jalan. Bukannya kehilangan nama baik, keberanian dan kerendahan hati Marina membuat reputasi kesalehannya tersiar semakin luas dan meneguhkan hati sesama umat Kristen.

Konon, dalam perjalanan perarakannya, terjadi setidaknya satu peristiwa mukjizat. Kala itu perarakan sedang berada jauh dari sumber air mana pun. Marina, yang kehausan, meminta salah satu pengawalnya untuk pergi mencari air ke balik bebatuan di dekat mereka. Awalnya si pengawal mengatakan betapa konyolnya ide tersebut, sebab mereka sedang berada di tempat yang kering dan tidak ada air di sekitar situ. Tetapi Marina tetap meminta, dan benarlah yang dikatakannya, di balik bebatuan ditemukan sebuah mata air dan bahkan aliran sungai kecil dengan air jernih yang segar.

Menurut kesaksian orang-orang, mata air tersebut tidak ada di sana sebelumnya, dan mereka memercayai bahwa Tuhanlah yang meletakkannya di sana secara ajaib untuk menghibur hambaNya yang setia. Sekembalinya Marina dari perarakan, para hakim sudah paham bahwa mereka melakukan kesalahan yang fatal. Hukuman tersebut bukannya membawa aib bagi Marina, namun malah membuatnya menjadi pahlawan iman. Bahkan orang-orang Jepang yang masih pagan pun mengaguminya sebagai wanita paling pemberani di Jepang.

Maka Marina dijatuhi siksaan yang terakhir sekaligus hukuman mati, yaitu dibakar lambat-lambat. Metodenya adalah sebagai berikut. Si terhukum diikat di sebuah tiang, kemudian api dinyalakan dengan jarak yang agak jauh sehingga menyiksa dengan panasnya secara perlahan. Api itu kemudian dicampur dengan rerumputan, jerami, tanah, daun dan ranting, serta sedikit air, sehingga menghasilkan asap hitam tebal yang menyesakkan dan meracuni pelan-pelan. Pembakaran lambat ini sengaja dilakukan untuk memperpanjang dan memperberat siksaan, dengan maksud memberi kesempatan si terhukum untuk murtad di waktu-waktu terakhir, sebelum akhirnya lidah api melahap habis tubuhnya.

Marina dibakar di Nishizaka, tanah eksekusi bagi ratusan martir Kristus, pada bulan November 1634, saat ia berusia sekitar 25 tahun. Abunya segera dibuang ke laut supaya tidak disimpan umat dan dihormati sebagai relikui. Marina mengakhiri hidupnya di tiang pembakaran bukan dengan teriakan-teriakan kesengsaraan, namun dengan lantunan syukur dan doa bagi algojonya dan bagi sesama umat yang dianiaya. Demikianlah nama Marina dari Omura dikenang sebagai pahlawan Kristen yang tegar dan kuat. Kekuatan fisik dan mentalnya yang nyaris melampaui kekuatan manusia biasa, sungguh layak bagi anak Allah yang setia pada iman.

Marina dari Omura bersama lima belas martir Jepang lainnya dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 18 Februari 1981 di Luneta, Filipina, kemudian dikanonisasi oleh Paus yang sama di Roma pada tanggal 18 Oktober 1987.

[/column]

[column parallax_bg=”disabled” parallax_bg_inertia=”-0.2″ extended=”false” extended_padding=”true” background_color=”#898989″ background_image=”” background_repeat=”” background_position=”” background_size=”auto” background_attachment=”” hide_bg_lowres=”false” background_video=”” vertical_padding_top=”0″ vertical_padding_bottom=”0″ more_link=”” more_text=”” left_border=”transparent” class=”” id=”” title=”” title_type=”single” animation=”none” width=”1/1″ last=”true”]

[column_1 width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

Doa
Ya Allah, Bapa kami, Engkaulah sumber kekuatan bagi Para Kudus-Mu. Engkau membimbing Santa Marina dari Omura dan para martir suci Jepang melalui sengsara Salib mereka hingga mencapai sukacita kekal di Surga. Semoga kami, yang diteguhkan oleh teladan mereka, mampu untuk setia pada iman, bahkan sampai mati. Melalui Kristus Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.
(Kalender Umum Ordo Pewarta)

[/column_1]

[/column]