[text_divider type=”double”]

(1586-1617)

[/text_divider]

[column width=”2/3″ title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[/column]

[column width=”1/3″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[/column]

[column width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[dropcap type=”1″]K[/dropcap]untum Mawar ini lahir pada tanggal 20 April 1586. Ia dibaptis dengan nama Isabel, sesuai nama sang nenek. Ibunya, Oliva, memberi nama demikian dengan tujuan menenangkan temperamen Isabel Senior yang pemarah. Tetapi saat Isabel Junior masih bayi, terjadi mukjizat berupa penampakan bunga mawar di atas kepalanya. Oliva menyadari hal tersebut sebagai tanda Surgawi bahwa putrinya harus diberi nama Rosa.

Perubahan nama ini menyulut amarah sang nenek, sehingga sering membuat keduanya bertengkar. Barulah ketika Isabel/Rosa menerima Sakramen Krisma, sang nenek mengalah karena ia mengakui kuasa Gereja yang berkehendak memanggil cucunya Rosa, bukan Isabel. Rosa lahir di Peru dalam Era Kolonisasi Spanyol. Seperti yang lumrah terjadi di tanah koloni, kawin campur menciptakan berbagai golongan etnis masyarakat. Pada waktu itu, di Amerika Latin terdapat tiga etnis besar yaitu Spaniard (ras Spanyol asli) yang berkulit putih, Indian Amerika yang berkulit merah, dan Afrika yang berkulit hitam. Etnis Spaniard sendiri terbagi dua kasta, yaitu orang-orang Peninsular (Spaniard yang lahir di Spanyol) dan orang-orang criollo (Spaniard yang lahir di tanah koloni).

Sebagai seorang criolla (bentuk feminin dari criollo), Rosa berada di kasta yang cukup tinggi meskipun bukan yang paling tinggi. Sejak kecil, Rosa de Flores disirami dengan pelbagai macam rahmat Surgawi. Pada usia tiga tahun, setelah mengalami kecelakaan kecil dan lukanya harus dijahit, Rosa menanggungnya dengan sabar tanpa menangis sedikit pun. Ia hanya mengatakan bahwa Yesus menderita jauh lebih hebat. Pada usia empat tahun, Rosa berusaha belajar membaca namun frustrasi karena merasa terlalu sulit.

Ia kemudian berpaling kepada Yesus untuk mengajarinya membaca, supaya ia tidak menyusahkan ibu yang sudah bekerja keras mengajarinya. Demikianlah Kanak-kanak Yesus menampakkan diri dan mengajari Rosa membaca dalam beberapa jam saja. Setelah bisa membaca, Rosa melahap buku-buku rohani yang dibelikan orang tuanya. Terinspirasi oleh Santa Katarina dari Siena, ia mengucap janji kemurnian pribadi dalam usia lima tahun.

Masih meneladani St. Katarina, ia pun membangun sel sendiri di halaman rumahnya, berupa gubuk kecil dari pelepah dan daun pisang. Gubuk itu diisinya dengan patung-patung mungil Tuhan Yesus dan Bunda Maria, dan di sanalah Rosa menghabiskan waktu-waktu doanya yang panjang. Jauh lebih mengherankan lagi praktik-praktik matiraganya yang begitu heroik. Pertama, ia memulainya dengan berhenti makan buah-buahan manis yang amat disukainya. Kemudian ia membatasi makanannya dengan hanya roti keras, air suamsuam kuku, dan sup rempah pahit yang dicampur abu.

Pada hari Jumat ia hanya makan roti dan empedu. Kadang ia bahkan tidak minum air selama berminggu-minggu, hal yang tentu sangat sulit bagi seseorang di iklim tropis yang panas dan lembap. Selain itu, ranjang tidurnya diselipi gelondong kayu keras dan pecahan beling serta keramik, sengaja agar membuatnya tetap terjaga selama mungkin untuk menemani Tuhannya. Dengan penuh cinta, Rosa mempersembahkan seluruh silih itu kepada Allah, bagi pengampunan dosa-dosanya sendiri dan dosa orang lain, bagi kebutuhan Gereja, pertobatan orang berdosa, dan kelegaan jiwajiwa malang di Api Penyucian.

Ibu Rosa, Oliva, sangat bangga akan kecantikan paras putrinya. Sebagai orang dari kasta yang tinggi, keluarga mereka terbiasa dengan acara-acara sosial dan pesta-pesta. Rosa pun tidak ketinggalan dibelikannya gaun-gaun dan perhiasan terbaik. Tetapi Oliva tidak mengerti mengapa Rosa tampak tidak mengacuhkan benda-benda tersebut. Oliva menyayangi putrinya tetapi sering tidak habis pikir bagaimana memperlakukan anaknya yang berbeda dari yang lain itu. Rosa sendiri merasa jengah setiap kali ia diminta hadir dalam pesta, tetapi karena terus dipaksa, akhirnya ia setuju, dengan alasan kepatuhan. Namun di sela-sela hiasan mahkota mawarnya Rosa menyelipkan sepucuk jarum panjang. Jarum tersebut menancap ke dagingnya begitu dalam sehingga sempat sulit dilepaskan dari kepalanya.

Oliva memarahi Rosa habis-habisan, tetapi bentuk matiraga tersebut segera menjadi favorit Rosa. Di kesempatan lain, di bawah kerudung mewahnya Rosa mengenakan lingkar kepala yang sengaja dirancang dengan sederet paku menghadap ke dalam. Lingkar kepala tersebut dimaksudkan agar mengingatkannya pada Mahkota Duri Kristus.

Oleh karena itu, walaupun Rosa nampaknya mulai bisa berbaur secara sosial, hati dan pikirannya sama sekali tak pernah meninggalkan Sang Kekasih Surgawi. Paku-paku di kepalanya menjadi pengingat yang sangat baik akan Salib. Yang lebih penting adalah wajahnya senantiasa menampakkan air muka tenang dan ceria, tanpa pernah menunjukkan upaya-upaya matiraganya. Ia juga taat pada arahan pembimbing rohaninya, terutama dalam halhal menyangkut doa dan silihnya yang keras itu.

Tak pelak, saat usianya menginjak 12 tahun, mulailah muncul pertanyaan-pertanyaan tentang pernikahan. Oliva sibuk menjodohkan putrinya dengan pria-pria muda di lingkaran pergaulan mereka. Oliva yakin bahwa Rosa akan menjadi pengantin paling cantik di Lima. Namun, Rosa terpaksa menyakiti hati ibunya dengan mengatakan bahwa sejak usia lima tahun ia sudah mempersembahkan keperawanannya bagi Allah. Ia juga mengutarakan keinginannya bergabung dengan Ordo Ketiga Dominikan, selibat namun tetap tinggal di rumah sendiri.

Hal ini menambah sakit hati Oliva, sebab baginya lebih baik menjadi selibat di dalam biara, bukan di tengah masyarakat. Rosa sama sekali tidak mendapat simpati dari keluarganya. Akan tetapi setelah masa penantian dan kesusahan yang panjang, akhirnya ia memperoleh juga habit Ordo Ketiga Dominikan. Sebagai seorang anak, Rosa amat penyayang dan bertanggung jawab.

Ia sangat suka berdoa dan menyepi di gubuk mungilnya, namun ia tidak lantas meninggalkan pekerjaan rumah. Ia membaktikan sepuluh jam setiap hari untuk mengerjakan bordiran sebagai tambahan penghasilan keluarga. Ia juga mengolah kebun bunga keluarga dengan tangan hijau, sehingga menghasilkan bungabunga terbesar dan tercantik di desanya. Mukjizat juga terjadi di kebun itu, yaitu beberapa kali bunga-bunga bermekaran di luarmusim mekarnya yang biasa. Rosa sangat senang karena ia mampu mempersembahkan bunga-bunga terbaiknya di altar Bunda Maria di Gereja Dominikan.

Meski demikian, Oliva tetap merasa tidak memahami putrinya. Ia tidak mengerti harus berbuat apa, terlebih ketika menyaksikan laku matiraga Rosa yang mencengangkan. Maka interaksi mereka pun menjadi aneh. Di satu sisi Oliva sering menyanjung-nyanjung Rosa dan memamerkannya kepada orang lain, di sisi lain ia sering menghukum Rosa di rumahnya sendiri. Tidak hanya itu, siksaan setan yang kejam juga harus ditanggungnya. Sekali waktu, di kebun belakang rumah, Allah mengizinkan Rosa mengalami derita Neraka, yaitu merasakan rasanya ditinggal dan dilupakan oleh orang-orang yang dikasihinya, oleh Santo Dominikus, Bunda Maria, bahkan oleh Kristus sendiri.

Rosa melawan semua serangan fisik dan jiwa itu dengan senjata kerendahan hati dan kepercayaan besar pada Allah. Ia meninggalkan keyakinan pada dirinya sendiri dan berserah sepenuhnya kepada kehendak Ilahi. Allah, yang begitu berkenan pada Kuntum Mawar Muda di kebun-Nya itu, menghiburnya pula dengan berbagai macam cara. Rosa mengalami sejumlah esktase dan penampakan Surgawi. Salah satunya adalah menerima Komuni Kudus dari Malaikat, ketika ia tidak sempat mengikuti Misa harian. Penghiburan juga datang dalam bentuk persahabatan manusia.

Rosa menjalin pertemanan dengan pembantu rumah tangganya, Mariana, seorang suku Indian asli yang sudah dibaptis. Rosa juga bersahabat dekat dengan Santo Martin de Porres, seorang mulato (campuran Spaniard dan Afrika kulit hitam) dan lay brother Dominikan. Rosa merasa hanya Martin yang dapat memahami perjalanan rohaninya yang unik, dan Martin pun merasa aman menceritakan kepada Rosa mukjizat-mukjizat besar yang dikerjakan Allah melalui tangannya. Martin memanggil Rosa “Rosita”, artinya ‘Mawar Kecil’.

Rosa memiliki kerinduan menjadi misionaris, dan ia memiliki “kecemburuan suci” terhadap imam-imam yang ditugaskan dalam misi ke tanah asing. Karena ia sendiri tidak mampu bermisi, maka Rosa menjadikan hal tersebut sebagai intensi tetap dalam doadoanya. Mungkinkah para martir Jepang yang dimartir di Nagasaki tidak lama setelah wafat Rosa, berhutang budi pada doa-doa sang Dominikan awam yang seumur hidupnya tak pernah melihat Jepang? Dalam keyakinan pada “Perhitungan Surgawi”, kita bisa memiliki pengharapan indah bahwa bisa jadi demikian.

Siksaan terakhir Rosa dialaminya pada hari-hari menjelang akhir hayatnya. Ia terbaring dalam demam tinggi yang serasa membakar seluruh tubuhnya dan mengeringkan mulutnya. Dalam keadaan seperti itu, walau ia dikelilingi oleh keluarga dan beberapa donaturnya, entah kenapa tidak seorang pun memberikannya segelas air dingin seperti yang dimintanya. Orang-orang sibuk menyodorkannya minuman obat. Rosa sudah pernah menubuatkan penderitaan ini sebelumnya, sehingga hal tersebut justru makin menambah keteguhannya untuk memikul Salib tersebut.

Rosa de Flores, kembang kekudusan pertama di Dunia Baru, meninggalkan tanah dunia ini dalam usia 31 tahun, pada tanggal 24 Agustus 1617. Ia pergi menuju Kebun Surga tempat ia akan menghiasi takhta Allah selamanya. Seluruh Kota Lima berkabung. Orang-orang Indian dan kulit hitam bercampur dengan bangsawan Spaniard menghaturkan hormat terakhir mereka bagi wanita muda yang berjasa bagi semua. Mereka semua yakin bahwa Rosa adalah orang suci. Keyakinan ini dikonfirmasi oleh Gereja melalui beatifikasi yang diberikan oleh Klemens IX pada tahun 1668, kemudian melalui kanonisasi oleh Klemens X pada tahun 1671.

[/column]

[column parallax_bg=”disabled” parallax_bg_inertia=”-0.2″ extended=”false” extended_padding=”true” background_color=”#ffab4c” background_image=”” background_repeat=”” background_position=”” background_size=”auto” background_attachment=”” hide_bg_lowres=”false” background_video=”” vertical_padding_top=”0″ vertical_padding_bottom=”0″ more_link=”” more_text=”” left_border=”transparent” class=”” id=”” title=”” title_type=”single” animation=”none” width=”1/1″ last=”true”]

[column_1 width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

ST. ROSA DE LIMA

Santa Rosa adalah orang kudus pertama dari benua Amerika. Ia lahir di Lima, Peru, pada tahun 1586. Ia adalah seorang wanita yang cerdas. Ia melihat Santa Katarina dari Siena sebagai teladan hidupnya. Pada usia 15 tahun, ia menerima habit Ordo Ketiga Dominikan (Dominikan Awam). Atas dasar ketaatan pada orangtuanya, ia tidak masuk biara, melainkan hidup di rumah dengan melaksanakan berbagai tindakan silih dan doa dengan rendah hati. Pestanya dirayakan Gereja setiap tanggal 23 Agustus.

[/column_1]

[/column]

[column width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[push h=”30″]

[/column]

[column parallax_bg=”disabled” parallax_bg_inertia=”-0.2″ extended=”false” extended_padding=”true” background_color=”#898989″ background_image=”” background_repeat=”” background_position=”” background_size=”auto” background_attachment=”” hide_bg_lowres=”false” background_video=”” vertical_padding_top=”0″ vertical_padding_bottom=”0″ more_link=”” more_text=”” left_border=”transparent” class=”” id=”” title=”” title_type=”single” animation=”none” width=”1/1″ last=”true”]

[column_1 width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

Doa
Ya Allah yang Mahakuasa, Sang Pemberi segala karunia yang baik, Engkau berkenan terhadap Santa Rosa yang mulia. Engkau mengairinya sejak dini dengan rahmat-Mu, sehingga di tanah bangsa Indian mekarlah sekuntum mawar kemurnian dan kesabaran yang elok. Kami mohon supaya kami hambaMu, yang mengikuti teladan manisnya, layak pula menjadi wewangian yang pantas bagi Kristus. Melalui Kristus Tuhan kami. Amin.
(Kalender Umum Ordo Pewarta)

[/column_1]

[/column]