[text_divider type=”double”]

(ca. 1600-1637)

[/text_divider]

[column width=”2/3″ title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[/column]

[column width=”1/3″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[/column]

[column width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[dropcap type=”1″]L[/dropcap]orenzo lahir di Distrik Binondo, Manila, dari ayah Tionghoa dan ibu Filipina, keduanya Katolik. Semasa mudanya, ia belajar bahasa Tionghoa dan Tagalog dari orang tua dan kemudian bahasa Spanyol dari Imam-imam Dominikan di Gereja Binondo tempat ia melayani sebagai misdinar dan sakristan. Setelah dididik selama beberapa tahun oleh para Dominikan, Lorenzo memperoleh gelar escribano (kaligrafer) oleh karena tulisan tangannya yang indah. Ia pun menjadi kaligrafer profesional yang bekerja menghias dokumen-dokumen penting dengan keahlian tulisan tangan anggun.

Lorenzo bergabung dengan Persaudaraan Rosario Suci yang berada di bawah naungan Ordo Dominikan. Ia menikahi Rosario, seorang wanita lokal, dan memiliki dua anak laki-laki serta satu anak perempuan. Tidak banyak detil yang diketahui mengenai kehidupan keluarga Ruiz kecuali bahwa mereka menjalani hari-hari yang damai, religius, dan secara umum cukup bahagia. Allah membelokkan jalan hidup Lorenzo secara tak terduga pada tahun 1636, yaitu ketika Lorenzo difitnah telah membunuh seorang Spanyol. Tidak jelas apa yang sesungguhnya terjadi serta bagaimana Lorenzo bisa berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.

Catatan sejarah hanya mengatakan bahwa Lorenzo menjadi buronan pihak yang berwenang. Lorenzo mencari perlindungan di atas kapal yang ditumpangi sejumlah imam dan awam Katolik. Mereka adalah tiga Imam Dominikan yaitu Antonio Gonzalez, Guillermo Courtet, dan Miguel de Aozaraza; seorang imam asli Jepang bernama Vicente Shiwozuka de la Cruz, dan seorang awam bernama Lazaro dari Kyoto, penderita lepra. Lorenzo tidak mengetahui ke mana mereka berlayar; barulah ketika kapal sudah di tengah laut ia menemukan bahwa mereka sedang menuju Jepang.

Negeri Jepang pada waktu itu tengah berlumuran darah. Di bawah kekuasaan Shogun Tokugawa, negeri itu menjadi saksi dari penganiayaan besar-besaran atas umat Kristen. Kapal Lorenzo dan rekan-rekannya mendarat di Okinawa, dan tidak lama mereka pun tertangkap oleh pihak Jepang lalu dibawa ke Nagasaki. Di Nagasaki, mereka dikenakan hukuman siksa menggunakan air.

Sejumlah besar air dimasukkan paksa ke dalam saluran pencernaan hingga penuh mencapai tenggorokan, kemudian si terhukum dibuat berbaring telentang dengan papan kayu panjang di atas perut, lalu eksekutor melompat ke atas kayu tersebut sehingga air di dalam perut terhukum menyembur keras melalui mulut, hidung, dan telinga.

Sang superior, Antonio, meninggal setelah beberapa hari. Imam Jepang Vicente Shiwozuka dan Lazaro si kusta nyaris murtad di bawah tekanan hukuman yang mengerikan, walau kemudian semangat mereka kembali tersulut karena menyaksikan keberanian rekan-rekan mereka yang lain. Dalam waktu-waktu krisis itu, Lorenzo sempat bertanya kepada seorang penerjemah, “Aku ingin tahu, apabila aku murtad, apakah aku akan dibiarkan hidup?” Si penerjemah bungkam seribu bahasa, namun keteguhan iman Lorenzo semakin bertumbuh. Ia menjadi luar biasa berani, bahkan menantang orang-orang yang menginterogasinya.

Lima orang yang tersisa dari rombongan Lorenzo tersebut dijatuhi hukuman mati tsurushi, yaitu digantung terbalik di dalam lubang sempit. Waktu itu tanggal 27 September 1637, bertempat di Bukit Nishizaka, Nagasaki. Dalam tiga hari, Lorenzo dan Lazaro meninggal, oleh sebab kehilangan banyak darah dan mati lemas. Sementara itu, tiga Imam Dominikan yang masih hidup akhirnya dipenggal. Jenazah mereka dibakar habis dan abunya dibuang ke Samudra Pasifik.

Menurut catatan misionaris yang dikirim dan selamat sampai ke Manila, Lorenzo mengutarakan kata-kata berikut pada waktu ajalnya, “Ego Catholicus sum et animo prompto paratoque pro Deo mortem obibo. Si mille vitas haberem, cunctas ei offerrem”, yang artinya, “Aku seorang Katolik dan dengan sepenuh hati aku menerima kematian demi Allah.

Seandainya aku punya seribu nyawa, semuanya itu akan aku persembahkan bagi-Nya.” Lorenzo Ruiz dan sejumlah martir lainnya di Jepang dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 18 Februari 1981. Paus yang sama mengkanonisasi mereka pada tanggal 18 Oktober 1987. Santo Lorenzo Ruiz merupakan martir Filipina pertama yang dikanonisasi.

[/column]

[column parallax_bg=”disabled” parallax_bg_inertia=”-0.2″ extended=”false” extended_padding=”true” background_color=”#898989″ background_image=”” background_repeat=”” background_position=”” background_size=”auto” background_attachment=”” hide_bg_lowres=”false” background_video=”” vertical_padding_top=”0″ vertical_padding_bottom=”0″ more_link=”” more_text=”” left_border=”transparent” class=”” id=”” title=”” title_type=”single” animation=”none” width=”1/1″ last=”true”]

[column_1 width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

Doa
Ya Allah Tuhan kami, Engkau mengaruniakan keteguhan iman kepada Santo Lorenzo Ruiz dan rekan-rekan martirnya. Berikanlah kepada kami keteguhan dan ketekunan yang sama itu, sebab kami percaya bahwa barangsiapa dianiaya oleh karena kebenaran maka mereka akan berbahagia dalam Kerajaan-Mu. Melalui Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan bertakhta bersama dengan Dikau, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.
(Doa Kolekta Peringatan St. Lorenzo Ruiz dan Rekan-rekan Martir, ed. Rev. James Socías, 2013)

[/column_1]

[/column]