[text_divider type=”double”]

(1832-1861)

[/text_divider]

[column width=”2/3″ title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[/column]

[column width=”1/3″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[/column]

[column width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

[dropcap type=”1″]K[/dropcap]ekristenan pertama kali diperkenalkan di Vietnam sekitar abad 16, utamanya oleh misionaris Yesuit, Fransiskan, dan Dominikan. Kapal-kapal Yesuit dari Prancis mendarat tahun 1627, dan para misionaris bergerak cepat dalam memperluas Ladang Tuhan di negeri tersebut. Alexandre de Rhodes, S.J. adalah orang yang menciptakan alfabet Vietnam menggunakan huruf Latin, sehingga pendidikan dan penyebaran agama berlangsung cepat. Masa gemilang ini mencapai puncaknya ketika Uskup Pigneau de Béhaine datang ke Vietnam pada akhir abad 18 dan bersahabat dekat dengan Nguyen Anh, yang kemudian naik takhta sebagai Kaisar Gia Long. Untuk menghormati sahabat dan pendermanya, Kaisar Gia Long mengizinkan Iman Katolik diwartakan seluasluasnya.

Kegiatan misionaris terpusat di dua daerah, yaitu di daerah utara (Tonkin) yang didominasi Dominikan dan Fransiskan Spanyol, serta di daerah tengah dan selatan (Cochinchina) yang didominasi Yesuit Prancis. Ketika Kaisar Gia Long mangkat pada tahun 1820, di Vietnam sudah ada enam uskup Eropa, dan populasi Katolik diperkirakan berjumlah 300.000 di Tonkin dan 60.000 di Cochinchina.

Sayangnya kebebasan dan kesuksesan ini tidak berlangsung lama. Sebelum meninggal, kaisar telah menunjuk putra keempatnya, Nguyen Phuc Dam, sebagai penggantinya, oleh sebab Putra Mahkota Gia Long, Nguyen Phuc Canh, meninggal muda. Nguyen Phuc Dam, kini Kaisar Minh Mang, merupakan penganut Konghucu yang amat kuat dan menentang keberadaan bangsa Eropa di Vietnam.

Dalam 5 tahun setelah naik takhta, ia melarang misionaris-misionaris baru masuk ke Vietnam, dan kapal-kapal yang sudah mendarat harus menjalani penggeledahan yang ketat. Dengan adanya aturan baru ini, dimulailah masa-masa kelahiran martir baru dari Vietnam. Nguyen Duy Khang, dibaptis dengan nama Yosef, dilahirkan tahun 1832 di komunitas Kristen di Cao Mai, Provinsi Thai-Binh (Tra-Vinh).

Di usia 16 tahun, setelah ayahnya wafat, Yosef Khang meminta restu kepada ibunya untuk pergi menimba ilmu sebagai calon imam. Akan tetapi atmosfer anti-Katolik yang pada waktu itu sedang memanas mengubah rencana hidup Yosef. Ia tidak jadi meneruskan sekolah imamnya, namun menjadi katekis yang mengajar dan menguatkan sesama saudaranya yang ketakutan.

Sebagai katekis, Yosef bekerja di bawah Uskup Jerome Hermosilla, Uskup Dominikan dari Spanyol, yang ditugaskan menggembalakan umat di Tonkin. Pada waktu itu, suasana di Tonkin sama sekali berbeda, menjadi Katolik di sana tidak ubahnya dengan tindakan bunuh diri.

Uskup Hermosilla sendiri merupakan uskup yang mampu bertahan hidup paling lama di Tonkin, yaitu selama 20 tahun, yang penuh terisi dengan tindakan-tindakan heroik dan peristiwa-peristiwa yang menguji iman. Yosef dan Uskup Hermosilla akhirnya ditangkap dan dipenjarakan bersama-sama. Sebetulnya, Yosef dapat melarikan diri, karena serdadu yang menangkapnya itu hanya mencari sang uskup.

Seorang Vietnam Katolik yang beriman lemah ternyata telah berkhianat membocorkan tempat persembunyian mereka di bawah geladak kapal. Namun Yosef lebih suka tetap setia di samping gembalanya, katanya, “Apabila Bapa Uskup meninggal demi iman, demikianlah yang akan kulakukan juga.”

Yosef mendampingi Uskup Hermosilla selama tiga tahun. Dari uskup itulah ia menerima habit Ordo Ketiga Dominikan. Selama di penjara, mereka berdua berulang kali disiksa dengan hukum cambuk, namun tidak satu pun mengeluh atau tampak merana. Sebaliknya, Yosef selalu kelihatan ceria dan damai, serta selalu membawa diri dengan penuh martabat. Semua orang yang mengunjungi atau menonton hukuman cambuknya ia desak untuk senantiasa mengasihi Allah dan menyayangi Bunda Maria.

Mahkota kemartiran akhirnya diperoleh Yosef pada tanggal 6 Desember 1861 melalui hukuman penggal, hanya beberapa hari setelah bapa uskup terkasihnya dimartir. Yosef Khang, Uskup Hermosilla, dan sejumlah Dominikan serta martir Vietnam lainnya dibeatifikasi bersama-sama oleh Paus Santo Pius X pada tanggal 20 Mei 1906, kemudian dikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 19 Juni 1988. Kemenangan para martir Vietnam ini diperingati oleh Gereja pada tanggal 24 November.

[/column]

[column parallax_bg=”disabled” parallax_bg_inertia=”-0.2″ extended=”false” extended_padding=”true” background_color=”#898989″ background_image=”” background_repeat=”” background_position=”” background_size=”auto” background_attachment=”” hide_bg_lowres=”false” background_video=”” vertical_padding_top=”0″ vertical_padding_bottom=”0″ more_link=”” more_text=”” left_border=”transparent” class=”” id=”” title=”” title_type=”single” animation=”none” width=”1/1″ last=”true”]

[column_1 width=”1/1″ last=”true” title=”” title_type=”single” animation=”none” implicit=”true”]

Doa
Ya Allah, Raja Segala Ciptaan, Engkau berkenan memberikan Yosef Khang kesempatan istimewa untuk terhitung di antara Para Kudus-Mu yang mempersembahkan hidup mereka bagi kesaksian akan Injil. Semoga oleh doa-doanya kami pun dikaruniai keberanian untuk berbagi cawan sengsara Kristus dan bersama-Nya pula bangkit ke dalam kemuliaan kekal. Melalui Kristus Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.
(Kalender Umum Ordo Pewarta)

[/column_1]

[/column]